
Orang orang muslim sasak mula-mula dibawa oleh raja Bali (era Kerajaan
Karangasem)
dari daratan Lombok. Waktu itu Lombok memang berada dibawah pendudukan
kerajaan Karangasem. Secara historis, keinginan untuk penguasaan Bali
atas Lombok
sebenarnya terjadi jauh sebelum kerajaan Karangasem, yakni sudah
terjadi di sekitar abad 16 oleh kerajaan Gelgel era kepemimpinan Watu
Renggong. Waktu itu Watu Renggong (pasca runtuhnya Majapahit oleh
Demak) berhasil menguasai Blambangan (1512 M),dan menyerang Kerajaan
Lombok (1520 M). dan Gelgel gagal untuk melaksanakan niatnya untuk
menguasai Lombok waktu itu. Tujuan Waturenggong kala itu memang untuk
membendung pengaruh Islam Demak memasuki Bali. Logika Waturenggong ini
dapat dipahami sebab kala itu Bali memang menjadi tempat pelarian
orang-orang yang pintar dan kuat-kuat akidah kehinduannya. Era
keruntuhan Mojopahit memang pangeran-pangeran yang tak mau masuk Islam
lari ke Bali. Sebagian ada juga yang lari ke gunung Bromo yang kala itu
rombongan dipimpinan Pangeran Seger dan istrinya Roro Anteng. anak
keturunan mereka pun akhirnya disebut suku Tengger
Lombok memang
menjadi target strategis penguasaan Watu Renggong (berkuasa sejak
1460-1550 M) untuk menghadang Islam Demak, sebab Lombok kala itu sudah
terpengaruh Islam. Artinya, Islam sudah masuk dan menyebar ke wilayah
itu. Kedatangan Islam ke Lombok terjadi sekitar tahun 1505 M ketika
zaman Sunan Dalem putranya Sunan Giri Kedaton berkuasa di Gersik
(1505-1545 M) . Islam masuk dari arah utara dan timur, lantas untuk
mengefektifkan pengaruh, wilayah penyebaran
sengaja dibagi dua sesuai dengan dua tokoh utama pelaku penyebaran,
yakni: Raden Mas pengging dan Raden Mas Prapen alias Sunan Mas Ratu
Pratikel (hidup tahun 1548-1605). Raden Mas Prapen tidak lain adalah
buyut dari Sunan Giri (hidup tahun 1487-1506), sehingga dia sering
disebut sebagai Sunan Giri ke IV. Sedangkan Raden Mas Pengging tidak
lain adalah Ki Kebo Kenongo yang lahir di Pengging tahun 1472 M. Raden
Mas Pengging ini menjadi murid Syekh Siti
Jenar. Melalui misi kedua orang itulah akhirnya Lombok menjadi penganut
Islam.
Wilayah Lombok muslim inilah yang diserang oleh Gelgel pimpinan
Waturenggong pada tahun 1520 M namun penyerangan itu dapat
digagalkan,dan kegagalan tersebut membuat Gegel Waturenggong membuat
taktik lain yaitu mengirim Danghiyang Niratha Atau Pedanda Sakti Wawu
Rawuh menemui Sri Aji Kerahengan di Mataram Lombok Gelgel juga mengirim
rakyatnya untuk membuka lahan pertanian di sekitar Mataram yang
nantinya daerah tersebut berkembang pesat dan berdirilah dua buah
kerajaan di tempat tersebut yaitu Kerajaan Pegesangan dan Pagutan (
tahun 1622 M ). Kerajaan Gelgel pasca Watu Renggong ”berantakan” sendiri
terutama akibat konflik internal. Banyak wilayah akhirnya
mendeklarasikan sebagai kerajaan sendiri, serta menempatkan Gelgel
hanya sebagai pusat kultural belaka. Dengan rontoknya kekuatan Gelgel,
Lombok tentu telepas pula dari ancaman Gelgel Klungkung. Namun, pada
perkembangan
waktu Karangasem berhasil menaklukkan dan meluaskan kerajaannya ke
Lombok tahun 1692 M dengan membelotnya Patih Pejanggik Arya Banjar Getas
memberontak terhadap kekuasaan Pejanggik.
Sebelum Karangasem melebarkan kekuasaan ke Lombok, untuk
penjajakan raja menjalin lawatan (perkenalan-persahabatan) politik
dengan beberapa raja. Di kerajaan Pejanggik Lombok Tengah, raja
berkenalan dengan Datu Pejanggik Maspanji Meraja Sakti memiliki anak muda bernama Mas
Pakel Ukir. Sebagai tanda perasudaraan, raja Bali mengundang Mas Pakel
datang dan tinggal di Bali alias diangkat menjadi keluarga kerajaan
Karangasem.
Mas Pakel adalah seorang pemuda gagah, ganteng, dan
sangat sopan, sehingga para putri raja bahkan istri raja sangat
menyukainya. Akibatnya, keluarga lingkungan kerajaan banyak yang
merasa iri atau sakit hati. Mereka lantas membuat fitnah bahwa: Mas
Pakel Ukir merusak pagar ayu, merusak istri raja, merusak putri-putri raja,
yang mestinya dijaga. Gencarnya profokasi menyebabkan raja termakan
oleh cerita ini, sehingga membuat rekayasa untuk menyingkirkan pemuda
Pakel. Pakel ditunjuk menjadi panglima, dan seolah dikirim untuk
melawan musuh. Namun, di wilayah yang kini ada di kawasan Tohpati
Mas Pakel berusaha untuk dibunuh. Mas Pakel Ukir sangat sakti, sehingga
tidak bisa mati. Meski demikian, Pakel yang sendirian juga tidak bisa
selamat dari pengeroyokan. Konon ia lantas mengambil sikap, ”Saya
sekarang tahu bahwa saya direkayasa untuk dibunuh. Kalau mau membunuh
saya bawalah saya ke Pantai Ujung”. Proses berikutnya ada tiga
versi:Pertama, Di pantai Mas Pakel tetap gagal dibunuh, sehingga
akhirnya diusir balik ke Lombok dengan memakai perahu kecil (perahu
pancing). Adapun makam yang ada di dekat Panjai Ujung, Karangasem itu,
bukan makam Datu Mas Pakel Ukir (yang dikenal dengan sebutan Sunan Mumbul)
tetapi makam Raja Pejanggik yang ditawan Raja Karangasem hingga
meninggal. Kedua, ketika patih yang ditugaskan untuk membunuh
mengayunkan pedang, Mas Pakel tiba-tiba menghilang dari pandangan dan
berlari di atas air. Patih lantas membuat rekayasa untuk lapor pada
raja, dengan membunuh seekor anjing dan hatinya diserahkan pada raja
sebagai bukti bahwa dia telah menjalankan perintah. Namun, beberapa
hari setelah peristiwa itu, tiba-tiba muncul seberkas sinar tempat Mas
Pakel Ukir menghilang, dan tanah yang semula rata berubah menjadi gundukan
menyerupai kuburan. Sejak itulah Mas Pakel dijuluki dengan sebutan
Sunan Mumbul. Ketiga, Pakel akhirnya memang dibunuh, karena dia telah
melepaskan kesaktian. Mayatnya dikubur di Pantai itu. Namun, ketika
hendak dibunuh dia mengeluarkan kutukan: ”siapapun yang membunuh, semua
keturunannya kalau lewat lokasi ini akan sakit jika tak bisa kencing di
sekitar sini”. Perkataan Pakel ini dipercaya menjadi tuah oleh
komunitas Hindu setempat. ”Saya kenal I Gede Gusti Putu. Dia nunggu dulu
nggak mau lewat kalau belum kencing. Kalau belum kencing ndak berani
lewat katanya. Makam
yang dipercaya sebagai kuburan Mas Pakel ini kini biasa diziarai
terutama pada 15 hari pasca lebaran Iedzul Fitri.
Namun jika kita lihat tentang berita dari Lombok ,bahwa Mas Pakel Ukir
tidak dibunuh,namun diberikan sebuah perahu untuk kembali ke Pulau
Lombok,dan Patih Kerajaan Karang Asem yang ditugaskan untuk membunuh Mas
Pakel Ukir membuat laporan kepada Raja,bahwa Mas Pakel Ukir telah
dibunuhnya di Pantai Ujung.Sebagai bukti bahwa Mas Pakel Ukir tidak
dibunuh dan kembali ke Lombok yaitu adanya keturunannya yang sampai saat
ini masih ada di Lombok yaitu di sekitar wilayah Kateng dan Mangkung.Di
Lombok menurut beberapa sumber disebutkan Putri dari Mas Pakel Ukir
dinikahkan dengan Putra Maspanji Komala Patria yang melahirkan seorang
putra bernama Maspanji Turu ,dan mas Maspanji Turu melahirkan tiga orang
putra yang bernama :
1-Denek Laki ( Demung ) Nanggali yang beranak pinak di Kateng
2-Denek Laki ( Demung ) Suwa yang beranak pinak di Mangkung
3-Denek Laki ( Demung ) Paritu yang beranak pinak di Selebung Ketangga
Terkait Mas Pakel dalam konteks sejarah penaklukan Lombok oleh Karangasem, terdapat dua interpretasi sejarah.
Pertama, Pengangkatan Mas Pakel sebagai saudara kerajaan dan
dipersilahkan tinggal di Karangasem, sejak awal telah dirancang untuk
wahana penjajakan kekuatan: Ingin tahu berapa kekutannya, dan berapa
prajuritnya. Jadi dengan adanya Datuk Mas Pakel atau disebut juga Datuk
Pemuda Mas diambil sebagai saudara, kerajaan Karangasem bisa leluasa
kesana-kemari untuk menyelidiki kekuatan lawan. Setelah mengetahui
kekuatan dan kelemahan Lombok, Mas Pakel Ukir yang tidak lagi “dibutuhkan”
disingkirkan, sedangkan penaklukan atas Lombok segera dilakukan. Jadi,
pengusiran/pembunuhan Pakel dengan alasan ”merusak pagar ayu keraton”,
hakekatnya sengaja direncanakan untuk mencari alasan permusuhan alias
pengabsah bagi Karangasem untuk melakukan penyerangan terhadap Lombok.
Kedua, kemungkinan lain raja Karangasem memang tidak melakukan
rekayasa, tetapi murni ingin membangun persahabatan dengan Lombok
termasuk dengan mengangkat saudara Mas Pakel. Tetapi, raja akhirnya
termakan fitnah yang dibangun elemen kerajaan yang anti Islam dan anti
Mas Pakel . Akibatnya, raja Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem
benar-benar marah, mengusir/membunuh Mas Pakel, bahkan akhirnya
melampiaskan kemarahan dengan melakukan perang penaklukan terhadap
Lombok (Selaparang dan Pejanggik).
Lombok akhirnya
berhasil ditaklukkan Karangasem (Bali) pada tahun 1692 M, sebagai tanda
penaklukan kedua setelah sebelumnya pernah diserang oleh Gelgel era
Waturenggong. Banyak hal memberi bukti terkait dengan penaklukkan ini.
”Kampung-kampung di Lombok setelah diduduki Karangasem harus ditambah
namanya dengan nama Karang. Makanya kalau ke Lombok nama kampung-kampung
(kecuali yang baru) pasti pakai nama Karang. Yang dulu kampung Jangkong
menjadi Karang Jangkong. Yang namanya kampong Meranggi menjadi Karang
Meranggi. Semua pake Karang, Karang Gentel, hampir seluruhnya”. Selain itu, raja Karangasem juga berusaha
mempersaudarakan antara Hindu dan Islam dengan cara mengakulturasi
bahasa. Maka diadopsilah bahasa Lombok, Beraye, sementara bahasa Bali
yang dibawa adalah Menyame. Maka jadilah Menyame Braye. ”Awalan bahasa
Bali pasti Me, kalau tidak berteman. Sementara Beraye adalah bahasa
Lombok, dengan awalan Be. Ketika menjadi bahasa Bali misalnya: Paling
tiang Bebatur. Hasil akulturasi itu dijadikan satu bahasa Bali dan
Lombok. Jadi, awalnya Menyama Braye itu di Puri Karangasem, lantas
menyebar ke seluruh Bali”,yang ahli membaca lontar
peninggalan generasi lampau.
Selain itu, setelah penaklukan,
orang-orang Lombok yang dianggap sakti lantas dibawa raja ke Karangasem
dengan maksud agar membantu keraton. “Menurut cerita kakek saya, mereka
yang didatangkan kebanyakan orang-orang bertuah. Orang-orang yang
artinya mempunyai power, tentu sesuai zaman itu. Kalau menurut saya
istilahnya ndak sakti, nabi saja dilempar patah giginya. Kalau menurut
saya mereka itu orang-orang yang saya anggap mempunyai power dan
keberanian, mempunyai pengaruh, mempunyai kepemimpinan karismatik
begitulah. Orang-orang seperti itulah yang dibawa kemari”.
Mereka inilah cikal bakal komunitas-komunitas Muslim
Karangasem, yang mayoritas berasal dari Lombok. Orang-orang sakti ini
ditempatkan sepasang-sepang (baca: suami istri) dengan: memakai
strategi mengelilingi Puri Kanginan sebagai tempat raja. Di sebelah
selatan ada Banjar Kodok, di sebelah selatannya lagi kampung Islam
Dangin Seme. Di sebelah barat ada desa Hindu, sebelah baratnya lagi
Kampung Islam Bangras. Intinya, penempatan dilakukan secara
selang-seling Islam-Hindu, mengelilingi puri. ”Itu strategi raja untuk
mempersatukan rakyat Karangasem, sekaligus mengamankan puri”, Namun, logika itu juga memberikan arti bahwa puri tampaknya
tidak terlalu merasa aman jika hanya dikelilingi rakyat Hindu, serta
memerlukan pengawalan dari rakyat yang justru beda agama. Pada
kenyataannya memang kalangan Islam dapat dipercaya raja untuk menjadi
”pengawal puri”. Inilah yang menjadi satu sebab kenapa Umat Islam
Karangasem dengan Puri menjadi sangat akrab.
Selain Dangin Seme,
kampung-kampung kuno Islam lain di Karangasem sejarahnya juga sama.
Mereka sengaja ditaruh sepasang-sepasang (baca: kira-kira suami istri),
dengan posisi mengelilingi Puri. Posisi mengelilingi puri dibuat dua
lapis. Seperti Dangin Seme termasuk lapisan pertama. Lapisan kedua
seperti Segar Katon, Ujung Pesisi, Kebulak Kesasak, Bukit Tabuan, dengan
formasi juga mengelilingi puri. Lapis kedua bahkan sampai Saren Jawa
dan Kecicang.
Adapun muslim yang ditempatkan di Sindu, spesifik
untuk menghadang kerajaan Klungkung. Yang ditaruh di Sidemen untuk
menghadang dan memata-matai gerak-gerik kerajaan Klungkung. Dengan kata
lain, komunitas muslim Sindu –yang jaraknya sekitar 30 km dari Dangin
Seme– dulunya memang spesial untuk memata-matai Klungkung.
Selain Shindu ada kampung Islam lain yang kala itu mempunyai posisi
super spesial, sehingga nama kampung pun memiliki nama yang
mencerminkan posisi dan fungsi yang super spesial. Kamunitas Kampung
Karang Tohpati, adalah contohnya. Toh itu artinya mempertaruhkan,
sedangkan pati atinya jiwa. “Kala itu kaum Muslim sebenarnya bukan
tinggal di Karang Tohpati, tetapi mereka memang tinggal di lokasi
Tohpati di wilayah Bebandem di Saren Jawa. Di situlah ada namanya
Tohpati, di situlah dulunya dia tinggal, untuk menjaga kalau ada musuh.
Di lokasi itu Tohpati mempertaruhkan Jiwa”, “Kasus ini sama dengan
orang-orang Subagan yang asalnya dari Sekar Bela. Sekar artinya
kembang, bela maknanya membela. Jadi dia suka membela raja sampai
namanya wangi seperti kembang karena membela”.