Minggu, 21 Agustus 2016

MASUKNYA ISLAM DI BAYAN


Dalam berbagai litelatur kuno tentang sejarah Islam di pulau Lombok, menyebutkan awal kedatangan Islam diperkirakan terjadi sekitar awal abad 16 Masehi yaitu tahun 1505 M,ketika pemerintahan Sunan Dalem yaitu putra dari Sunan Giri Kedathon,pengislaman tersebut atas perintah Ratu Giri, melalui pesisir Bayan di Kabupaten Lombok Utara. Dan selanjutnya penyebaran agama islam dilanjutkan oleh Sunan Sunan Prapen ke Bayan tahun 1545 M , adalah cucu ke 4 Sunan Giri.
Pada tahun 1510 M, ketika terjadi gonjang ganjing tentang ajaran Syeikh Siti Jenar di Demak,seorang murid Syeikh Siti Jenar yang bernama Kebo Kanigoro datang ke Lombok dan menikah dengan putri Purwa yang bernama Dwi Kencana Sari mengajarkan islam sufie di Lombok.Kebo Kanigoro dikenal dengan nama Pangeran Pengging di Lombok ,dan mengajar islam sufie di Pujut dan Bayan.Di Bayan Pangeran Pengging dikenal dengan nama Pangeran Mangkubumi.
Terlepas dari banyaknya persepsi tentang sejarah awal kedatangan Islam ke Lombok, Bayan tetap diyakini masyarakat luas sebagai daerah pertama yang mengenal Islam. Setelah itu baru menyebar ke seluruh penjuru pulau Lombok, hingga kawasan barat dan timur.
Hal itu didukung dengan adanya sejumlah bukti artefak yang hingga kini masih bisa dijumpai di daerah bayan, salah satunya Masjid Kuno Bayan dan Al-quran tulis tangan berusia ratusan tahun.
“Ada beberapa persepsi mengenai sejarah kedatangan Islam ke Lombok, namun yang paling umum, Islam  diperkirakan pertama kali datang abad ke 16, dibawa Sunan Perapen dari tanah Jawa,” ungkap tokoh adat Bayan, Raden Gedarip.
Berdasar satu dari sekian banyak persepsi sejarah Islam Lombok, orang pertama yang memeluk agama Islam di Bayan bernama Titi Mas Supakel.

Setelah memeluk agama Islam maka sebagai tanda ke-Islamannya Titi Mas Supakel mengkhitankan empat putranya, namun di antara keempat putranya tersebut, yaitu Titi Mas Bunbunan menolak dikhitan. Karena tidak bersedia dikhitan, Titi Mas Bunbunan dikirim ayahnya untuk mencari ilmu ke Bali, seiring waktu Titi Mas Bunbunan pun masuk agama Hindu kemudian menetap di Bali.

Dalam cerita sejarah yang ada, beliau diceritakan memiliki lima orang putra-putri, empat laki-laki dan satu orang perempuan. Mereka antara lain Titi mas Rempung, Titi Mas Muter, Titi Mas Sunsunan, Titi Mas Bunbunan, dan Titi Mas Pande. Dari ke lima putra-putri titi mas supakel itu, hanya Titi Mas Pande yang diketahui memiliki kemampuan lebih dan di percaya oleh ayahnya sebagai penguasa adat.
Putra Titi Mas Supakel yang lain, yakni Titi Mas Sunsunan dikirim ke pejanggik yang kemudian juga menetap disana. Setelah semua putra beranjak dewasa, Titi Mas Supakel memutuskan pindah ke Gunung Batua dan menyerahkan kepemimpinan Datu Bayan kepada anaknya yang paling besar yaitu Titi mas Rempung.
Namun, tidak lama menjadi Datu Bayan, tahta kepempinan diserahkan kembali kepada adik perempuannya yaitu Titi Mas Pande, sehingga pimpinan di wilayah Kedatuan Bayan di pimpin oleh seorang perempuan dan sekaligus sebagai pemimpin adat pada waktu itu.
Ketika Titi Mas Pande menjadi pemimpin kedatuan Bayan, pelaksanaan adat berjalan bersama dengan pelaksanaan agama  sehingga Titi Mas Pande di kenal oleh rakyatnya sebagai pemimpin yang adil arif dan bijaksana.
Bersamaan dengan pindahnya ayah mereka ke Gunung Batua, putra kedua dari Titi Mas Supakel yaitu  Titi Mas Muter dikirim ke mekah untuk mendalami Islam dan sekaligus untuk menunaikan ibadah haji.
Setelah cukup lama menuntut ilmu di tanah mekah, titi mas muter di sarankan sang guru untuk kembali ke negerinya. Titi mas muter pun mendapatkan gelar Syekh Nurul Rosyid.
Diceritakan dalam perjalanan pulang Titi Mas Muter yang sudah berganti nama Syekh Nurul Rosid singgah di Bagdad, Iraq untuk memperdalam ilmunya.
Setelah lama berguru dan belajar di Iraq, Syekh Nurul Rasid kembali berganti nama menjadi Gaus Abdul Rozak, baru setelah mendapatkan gelar tersebut Gaus Abdul Rozak melanjutkan kembali perjalanan pulang ke negerinya.Pada tahun 1578 M Gaus Abdul Rozak mendirikan masjid Bayan bersama Sunan Prapen.
Sejak kedatangannya pertama kali di pulau Lombok, melalui pelabuhan carik bayan, para Sunan pembawa Islam terus menyebarkan dakwahnya kepada warga lokal di sekitar kawasan pesisir. Masyarakat diberikan pemahaman-pemahaman tentang kebesaran Islam, menyampaikan ajaran ketauhidan.
Seiring waktu, dengan pola komunikasi dan pendekatan positif, masyarakat Bayan saat itu perlahan membuka diri, Islam-pun akhirnya diterima masyarakat sasak bayan.
Konversi keyakinan secara besar-besaran terjadi. Paham-paham dan praktik animisme mulai ditinggalkan, meski sebagaian masyarakat suku sasak terutama yang berada di daerah-daerah pedalaman belum mampu melepaskan diri sepenuhnya dari ideologis keyakinan local yang telah diyakininya sejak lama.
Namun begitu, Islam di Lombok tidak berupaya memposisikan dirinya secara diametral sebagai kelompok keyakinan yang eksklusiv dengan budaya local yang sudah dijalani masyarakat sasak pada saat itu. Islam membiarkan dirinya dipraktikkan dalam tradisi-tradisi lokal masyarakat.
Perkembangan islam di pulau Lombok, Bayan pada khususnya berjalan beriringan dengan eksisitensi budaya dan karakteristik social masyarakat hingga kini.
Membahas Islam di tengah masyarakat Sasak Lombok, maka akan terfokus pada dua paham keagamaan yang ada, yakni Islam waktu lima (atau Islam yang dikonotasikan sebagai Islam syariat) dan Islam Wetu Telu, sebuah konsep pemahaman keyakinan tradisonal yang dipraktikkan masyarakat suku Sasak Lombok secara kolektif sejak ratusan tahun silam.
Islam berkembang dengan pesat. Puluhan bahkan ratusan tahun setelah kedatangannya ke pulau Lombok, kini Islam mampu meletakkan dasar ajaran-ajaran ketauhidannya sebagai pegangan hidup bagi jutaan jiwa masyarakat sasak Lombok pada umumnya.

Rabu, 17 Agustus 2016

KEBO MUNDAR RAJA SASAK




Kegembiraan atas kemenangan Kyai Tabanan dan Kyai pacung di Jawa timur tidak berkesan lama, karena pada tahun itu juga kekuasaan baginda di pulau sumbawa digempur oleh pasukan Sultan Makassar. Kerajaan Bima yang sejak dahulu bernaung dibawah kekuasaan kerajaan Gelgel telah dirapas oleh Sultan Makassar. Dengan demikian hubungan baik antara kerajaan Bali dan Makassar yang telah diikat dengan suatu perjanjian di dalam tahun 1624 menjadi berantakan kembali. 



Dengan demikian kedudukan baginda Sri Di Madhe didalam mengeudikan pemerintahan di Bali terasa makin sulit. Kerajaan Mataram yang terletak disebelah Barat keadaannya makin lama bertambah kuat, sedangkan sultan Makassar sudah mulai memperluas daerah kekuasaan di daerah Blangbangan antara kerajaan Mataram sering terjadi, sehingga merupakan suatu persoalan yang sulit untuk diatasi. Sedangkan kekuasaan baginda dibagian Timur sudah tampak mulai goyah, dengan adanya kekuasaan Sultan Makassar di pulau sumbawa.

Maka pada suatu hari didalam tahun 1639 dikirimlah utusan kepada VOC untuk membicarakan kembali suatu perjanjian persahabatan, seperti yang pernah disarankannya 6 tahun yang lalu. Akan tetapi perjalanan utusan terebut ternyata sia-sia, karena dari pihak VOC masih mempertimbangkan permintaan baginda raja itu.

Kelemahan yang sedang menimpa kerajaan Gelgel ternyata dipergunakan oleh kerajaan Makassar untuk merongrong kekuasaannya. Didalam catatan VOC disebutkan bahwa pada tanggal 30 Oktober 1640 angkatan perang Makassar yang besar jumlahnya menggempur pulau Lombok. Orang-orang Sasak yang diserang itu mengadakan perlawanan dengan sengitnya. Terjadilah pertempuran yang hebat disitu, masing-masing pasukan mempertahankan kekuatannya. Tentara Sasak yang gagah berani itu, akhirnya dapat mengusir pasukan Sultan makasar dari pulau Lombok, dibawah pimpinan seorang rajanya yag bernama Kebo Mundar. 

Setelah angkatan perang sultan Makaar menderita kekalahan di pulau Lombok, maka Kebo Mundar lalu menyatakan tidak mengakui lagi kekuasaan baginda raja di Gelgel. Mungkin kemenangan yang telah dicapainya melawan Sultan Makassar itu membangkitkan kepercayaananya untuk membebaskan pulau lombok dari kekuasaan pemeritnahan di Bali.

Peryataan Kebo Mundar yang demikian itu dianggap oleh pemerintah kerajaan di Gelgel sebagai suatu pemberontakan, maka baginda Sri Di Madhe menitahkan Kyai Tabaan untuk menumpasnya. Selanjutnya didalam kitab yang bernama “Babad Tabanan” menjelaskan, bahwa didalam penyerangan itu Kyai Tabanan mendaratkan pasukan yang berkekuatan ± 100.000 0rang. Pasukan Bali yang demikian besar jumlahnya itu melakukan penyerangan dengan hebatnya, terhadap kekuasaan Kebo Mundar. Setelahrajanya gugur didalam pertempuran, maka orang-orang Sasak takluk lagi dibawah kekuasaan baginda raja di Gelgel. Kemenangan Kyai Tabanan di pulau Lombok itu mendapat penghargaan dan pujian dari baginda Sri Di Madhe. Dua buahkitab syair yang berjudul “Susumbung parwasari”, dan “Tabanan Sari” seperti yang termuat di dala kitab Kidung Pemencangah, adalah suatu pujian tehradap kegagahan dan keberanian Kyai Tabanan.

Sesudah Sri Baginda berhasil mengadakan penumpasan di Pulau Lombok di dalam tahun 1640, maka kekuasaan baginda di Jawa timur dirampas lagi oleh angkatan perang dari kerajaan Mataram.
Hal itu disebutkan didalam sebuah kitab yang bernama “Babad Tabanan”. Kitab itu antara lain menceritakan bahwa untuk membebaskan kekuasaan baginda di Jawa timur dikirimlah angakatan perang dari Bali yang dipimpin oleh 2 orang anak Kyai Tabanan. Kedua anak tersebut masing-masing bernama :

Gusti Wayan Pamadekan alias Gusti Raka dan Gusti Made Pamadekan alias Gusti Rai.
Mereka dibantu oleh Kyai Pacung yang sudah banyak berpengalaman di medan pertempuran. Di dalam pertempuran itu ternyata angkatan perang Mataram jauh lebih kuat, sehingga pasukan bali menderita kekalahan. Gusti Wayan Pamadekan dapat digtawan disana, sedangkan adiknya yang bernama Gusgti Made Pamadekan dapat meloloskan dirinya bersama-sama Kiyai pacung. Mereka tiba dengan selamat di Bali beserta dengan beberapa anak buahnya. Peristiwa itu terjadi didalam tahun 1641, seperti termuat didalam pemberitaan VOC. Yang berkedudukan di Jepara (Jawa Tengah). 

Kekalahan angkatan perang dari kerajaan Gelgel di Blangbangan itu, menunjukkan suatu kemunduran yang sedang dialami oleh suatu kerajaanyang pernah jaya. Kesempatan yang baik itu dipergunakan oleh kerajaan Sumbawa untuk menggempur pulau Lombok. Penyerbuan secara besar-besaran dari kerajaan Sumbawa itu, dibantu pula oleh angkatan perang dari kerajaan Makasar, sehingga angkatan perang Bali yang menguasai Lombok Timur terpaksa mengundurkan diri sampai ke Lombok Barat. Disitulah mereka berkumpul sambil mempertahankan kekuasannya. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 14 Oktober 1641, seperti tersebut didalam catatan harian VOC.

MAS PAKEL UKIR KATENG LOMBOK






Orang orang muslim sasak mula-mula dibawa oleh raja Bali (era Kerajaan Karangasem) dari daratan Lombok. Waktu itu Lombok memang berada dibawah pendudukan kerajaan Karangasem. Secara historis, keinginan untuk penguasaan Bali atas Lombok sebenarnya terjadi jauh sebelum kerajaan Karangasem, yakni sudah terjadi di sekitar abad 16 oleh kerajaan Gelgel era kepemimpinan Watu Renggong. Waktu itu Watu Renggong (pasca runtuhnya Majapahit oleh Demak) berhasil menguasai Blambangan (1512 M),dan menyerang Kerajaan Lombok (1520 M). dan Gelgel gagal untuk melaksanakan niatnya untuk menguasai Lombok waktu itu. Tujuan Waturenggong kala itu memang untuk membendung pengaruh Islam Demak memasuki Bali. Logika Waturenggong ini dapat dipahami sebab kala itu Bali memang menjadi tempat pelarian orang-orang yang pintar dan kuat-kuat akidah kehinduannya. Era keruntuhan Mojopahit memang pangeran-pangeran yang tak mau masuk Islam lari ke Bali. Sebagian ada juga yang lari ke gunung Bromo yang kala itu rombongan dipimpinan Pangeran Seger dan istrinya Roro Anteng. anak keturunan mereka pun akhirnya disebut suku Tengger

Lombok memang menjadi target strategis penguasaan Watu Renggong (berkuasa sejak 1460-1550 M) untuk menghadang Islam Demak, sebab Lombok kala itu sudah terpengaruh Islam. Artinya, Islam sudah masuk dan menyebar ke wilayah itu. Kedatangan Islam ke Lombok terjadi sekitar tahun 1505 M ketika zaman Sunan Dalem putranya Sunan Giri Kedaton berkuasa di Gersik (1505-1545 M) . Islam masuk dari arah utara dan timur, lantas untuk mengefektifkan pengaruh, wilayah penyebaran sengaja dibagi dua sesuai dengan dua tokoh utama pelaku penyebaran, yakni: Raden Mas pengging dan Raden Mas Prapen alias Sunan Mas Ratu Pratikel (hidup tahun 1548-1605). Raden Mas Prapen tidak lain adalah buyut dari Sunan Giri (hidup tahun 1487-1506), sehingga dia sering disebut sebagai Sunan Giri ke IV. Sedangkan Raden Mas Pengging tidak lain adalah Ki Kebo Kenongo yang lahir di Pengging tahun 1472 M. Raden Mas Pengging ini menjadi murid Syekh Siti Jenar. Melalui misi kedua orang itulah akhirnya Lombok menjadi penganut Islam.

Wilayah Lombok muslim inilah yang diserang oleh Gelgel pimpinan Waturenggong pada tahun 1520 M namun penyerangan itu dapat digagalkan,dan kegagalan tersebut membuat Gegel Waturenggong membuat taktik lain yaitu mengirim Danghiyang Niratha Atau Pedanda Sakti Wawu Rawuh menemui Sri Aji Kerahengan di Mataram Lombok  Gelgel juga mengirim rakyatnya untuk membuka lahan pertanian di sekitar Mataram yang nantinya daerah tersebut berkembang pesat dan berdirilah dua buah kerajaan di tempat tersebut yaitu Kerajaan Pegesangan dan Pagutan ( tahun 1622 M ). Kerajaan Gelgel pasca Watu Renggong ”berantakan” sendiri terutama akibat konflik internal. Banyak wilayah akhirnya mendeklarasikan sebagai kerajaan sendiri, serta menempatkan Gelgel hanya sebagai pusat kultural belaka. Dengan rontoknya kekuatan Gelgel, Lombok tentu telepas pula dari ancaman Gelgel Klungkung. Namun, pada perkembangan waktu Karangasem berhasil menaklukkan dan meluaskan kerajaannya ke Lombok tahun 1692 M dengan membelotnya Patih Pejanggik Arya Banjar Getas memberontak terhadap kekuasaan Pejanggik.

Sebelum Karangasem melebarkan kekuasaan ke Lombok, untuk penjajakan raja menjalin lawatan (perkenalan-persahabatan) politik dengan beberapa raja. Di kerajaan Pejanggik Lombok Tengah, raja berkenalan dengan Datu Pejanggik Maspanji Meraja Sakti memiliki anak muda bernama Mas Pakel Ukir. Sebagai tanda perasudaraan, raja Bali mengundang Mas Pakel datang dan tinggal di Bali alias diangkat menjadi keluarga kerajaan Karangasem.

Mas Pakel adalah seorang pemuda gagah, ganteng, dan sangat sopan, sehingga para putri raja bahkan istri raja sangat menyukainya. Akibatnya, keluarga lingkungan kerajaan banyak yang merasa iri atau sakit hati. Mereka lantas membuat fitnah bahwa: Mas Pakel Ukir merusak pagar ayu, merusak istri raja, merusak putri-putri raja, yang mestinya dijaga. Gencarnya profokasi menyebabkan raja termakan oleh cerita ini, sehingga membuat rekayasa untuk menyingkirkan pemuda Pakel. Pakel ditunjuk menjadi panglima, dan seolah dikirim untuk melawan musuh. Namun, di wilayah yang kini ada di kawasan Tohpati Mas Pakel berusaha untuk dibunuh. Mas Pakel Ukir sangat sakti, sehingga tidak bisa mati. Meski demikian, Pakel yang sendirian juga tidak bisa selamat dari pengeroyokan. Konon ia lantas mengambil sikap, ”Saya sekarang tahu bahwa saya direkayasa untuk dibunuh. Kalau mau membunuh saya bawalah saya ke Pantai Ujung”. Proses berikutnya ada tiga versi:Pertama, Di pantai Mas Pakel tetap gagal dibunuh, sehingga akhirnya diusir balik ke Lombok dengan memakai perahu kecil (perahu pancing). Adapun makam yang ada di dekat Panjai Ujung, Karangasem itu, bukan makam Datu Mas Pakel Ukir (yang dikenal dengan sebutan Sunan Mumbul) tetapi makam Raja Pejanggik yang ditawan Raja Karangasem hingga meninggal. Kedua, ketika patih yang ditugaskan untuk membunuh mengayunkan pedang, Mas Pakel tiba-tiba menghilang dari pandangan dan berlari di atas air. Patih lantas membuat rekayasa untuk lapor pada raja, dengan membunuh seekor anjing dan hatinya diserahkan pada raja sebagai bukti bahwa dia telah menjalankan perintah. Namun, beberapa hari setelah peristiwa itu, tiba-tiba muncul seberkas sinar tempat Mas Pakel Ukir menghilang, dan tanah yang semula rata berubah menjadi gundukan menyerupai kuburan. Sejak itulah Mas Pakel dijuluki dengan sebutan Sunan Mumbul. Ketiga, Pakel akhirnya memang dibunuh, karena dia telah melepaskan kesaktian. Mayatnya dikubur di Pantai itu. Namun, ketika hendak dibunuh dia mengeluarkan kutukan: ”siapapun yang membunuh, semua keturunannya kalau lewat lokasi ini akan sakit jika tak bisa kencing di sekitar sini”. Perkataan Pakel ini dipercaya menjadi tuah oleh komunitas Hindu setempat. ”Saya kenal I Gede Gusti Putu. Dia nunggu dulu nggak mau lewat kalau belum kencing. Kalau belum kencing ndak berani lewat katanya. Makam yang dipercaya sebagai kuburan Mas Pakel ini kini biasa diziarai terutama pada 15 hari pasca lebaran Iedzul Fitri.

Namun jika kita lihat tentang berita dari Lombok ,bahwa Mas Pakel Ukir tidak dibunuh,namun diberikan sebuah perahu untuk kembali ke Pulau Lombok,dan Patih Kerajaan Karang Asem yang ditugaskan untuk membunuh Mas Pakel Ukir membuat laporan kepada Raja,bahwa Mas Pakel Ukir telah dibunuhnya di Pantai Ujung.Sebagai bukti bahwa Mas Pakel Ukir tidak dibunuh dan kembali ke Lombok yaitu adanya keturunannya yang sampai saat ini masih ada di Lombok yaitu di sekitar wilayah Kateng dan Mangkung.Di Lombok menurut beberapa sumber disebutkan Putri dari Mas Pakel Ukir dinikahkan dengan Putra Maspanji Komala Patria yang melahirkan seorang putra bernama Maspanji Turu ,dan mas Maspanji Turu melahirkan tiga orang putra yang bernama :

1-Denek Laki ( Demung ) Nanggali yang beranak pinak di Kateng
2-Denek Laki ( Demung ) Suwa yang beranak pinak di Mangkung
3-Denek Laki ( Demung ) Paritu yang beranak pinak di Selebung Ketangga

Terkait Mas Pakel dalam konteks sejarah penaklukan Lombok oleh Karangasem, terdapat dua interpretasi sejarah.

Pertama, Pengangkatan Mas Pakel sebagai saudara kerajaan dan dipersilahkan tinggal di Karangasem, sejak awal telah dirancang untuk wahana penjajakan kekuatan: Ingin tahu berapa kekutannya, dan berapa prajuritnya. Jadi dengan adanya Datuk Mas Pakel atau disebut juga Datuk Pemuda Mas diambil sebagai saudara, kerajaan Karangasem bisa leluasa kesana-kemari untuk menyelidiki kekuatan lawan. Setelah mengetahui kekuatan dan kelemahan Lombok, Mas Pakel Ukir yang tidak lagi “dibutuhkan” disingkirkan, sedangkan penaklukan atas Lombok segera dilakukan. Jadi, pengusiran/pembunuhan Pakel dengan alasan ”merusak pagar ayu keraton”, hakekatnya sengaja direncanakan untuk mencari alasan permusuhan alias pengabsah bagi Karangasem untuk melakukan penyerangan terhadap Lombok.

Kedua, kemungkinan lain raja Karangasem memang tidak melakukan rekayasa, tetapi murni ingin membangun persahabatan dengan Lombok termasuk dengan mengangkat saudara Mas Pakel. Tetapi, raja akhirnya termakan fitnah yang dibangun elemen kerajaan yang anti Islam dan anti Mas Pakel . Akibatnya, raja Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem benar-benar marah, mengusir/membunuh Mas Pakel, bahkan akhirnya melampiaskan kemarahan dengan melakukan perang penaklukan terhadap Lombok (Selaparang dan Pejanggik).

Lombok akhirnya berhasil ditaklukkan Karangasem (Bali) pada tahun 1692 M, sebagai tanda penaklukan kedua setelah sebelumnya pernah diserang oleh Gelgel era Waturenggong. Banyak hal memberi bukti terkait dengan penaklukkan ini. ”Kampung-kampung di Lombok setelah diduduki Karangasem harus ditambah namanya dengan nama Karang. Makanya kalau ke Lombok nama kampung-kampung (kecuali yang baru) pasti pakai nama Karang. Yang dulu kampung Jangkong menjadi Karang Jangkong. Yang namanya kampong Meranggi menjadi Karang Meranggi. Semua pake Karang, Karang Gentel, hampir seluruhnya”. Selain itu, raja Karangasem juga berusaha mempersaudarakan antara Hindu dan Islam dengan cara mengakulturasi bahasa. Maka diadopsilah bahasa Lombok, Beraye, sementara bahasa Bali yang dibawa adalah Menyame. Maka jadilah Menyame Braye. ”Awalan bahasa Bali pasti Me, kalau tidak berteman. Sementara Beraye adalah bahasa Lombok, dengan awalan Be. Ketika menjadi bahasa Bali misalnya: Paling tiang Bebatur. Hasil akulturasi itu dijadikan satu bahasa Bali dan Lombok. Jadi, awalnya Menyama Braye itu di Puri Karangasem, lantas menyebar ke seluruh Bali”,yang ahli membaca lontar peninggalan generasi lampau.

Selain itu, setelah penaklukan, orang-orang Lombok yang dianggap sakti lantas dibawa raja ke Karangasem dengan maksud agar membantu keraton. “Menurut cerita kakek saya, mereka yang didatangkan kebanyakan orang-orang bertuah. Orang-orang yang artinya mempunyai power, tentu sesuai zaman itu. Kalau menurut saya istilahnya ndak sakti, nabi saja dilempar patah giginya. Kalau menurut saya mereka itu orang-orang yang saya anggap mempunyai power dan keberanian, mempunyai pengaruh, mempunyai kepemimpinan karismatik begitulah. Orang-orang seperti itulah yang dibawa kemari”.

Mereka inilah cikal bakal komunitas-komunitas Muslim Karangasem, yang mayoritas berasal dari Lombok. Orang-orang sakti ini ditempatkan sepasang-sepang (baca: suami istri) dengan: memakai strategi mengelilingi Puri Kanginan sebagai tempat raja. Di sebelah selatan ada Banjar Kodok, di sebelah selatannya lagi kampung Islam Dangin Seme. Di sebelah barat ada desa Hindu, sebelah baratnya lagi Kampung Islam Bangras. Intinya, penempatan dilakukan secara selang-seling Islam-Hindu, mengelilingi puri. ”Itu strategi raja untuk mempersatukan rakyat Karangasem, sekaligus mengamankan puri”, Namun, logika itu juga memberikan arti bahwa puri tampaknya tidak terlalu merasa aman jika hanya dikelilingi rakyat Hindu, serta memerlukan pengawalan dari rakyat yang justru beda agama. Pada kenyataannya memang kalangan Islam dapat dipercaya raja untuk menjadi ”pengawal puri”. Inilah yang menjadi satu sebab kenapa Umat Islam Karangasem dengan Puri menjadi sangat akrab.

Selain Dangin Seme, kampung-kampung kuno Islam lain di Karangasem sejarahnya juga sama. Mereka sengaja ditaruh sepasang-sepasang (baca: kira-kira suami istri), dengan posisi mengelilingi Puri. Posisi mengelilingi puri dibuat dua lapis. Seperti Dangin Seme termasuk lapisan pertama. Lapisan kedua seperti Segar Katon, Ujung Pesisi, Kebulak Kesasak, Bukit Tabuan, dengan formasi juga mengelilingi puri. Lapis kedua bahkan sampai Saren Jawa dan Kecicang.
Adapun muslim yang ditempatkan di Sindu, spesifik untuk menghadang kerajaan Klungkung. Yang ditaruh di Sidemen untuk menghadang dan memata-matai gerak-gerik kerajaan Klungkung. Dengan kata lain, komunitas muslim Sindu –yang jaraknya sekitar 30 km dari Dangin Seme– dulunya memang spesial untuk memata-matai Klungkung.

Selain Shindu ada kampung Islam lain yang kala itu mempunyai posisi super spesial, sehingga nama kampung pun memiliki nama yang mencerminkan posisi dan fungsi yang super spesial. Kamunitas Kampung Karang Tohpati, adalah contohnya. Toh itu artinya mempertaruhkan, sedangkan pati atinya jiwa. “Kala itu kaum Muslim sebenarnya bukan tinggal di Karang Tohpati, tetapi mereka memang tinggal di lokasi Tohpati di wilayah Bebandem di Saren Jawa. Di situlah ada namanya Tohpati, di situlah dulunya dia tinggal, untuk menjaga kalau ada musuh. Di lokasi itu Tohpati mempertaruhkan Jiwa”, “Kasus ini sama dengan orang-orang Subagan yang asalnya dari Sekar Bela. Sekar artinya kembang, bela maknanya membela. Jadi dia suka membela raja sampai namanya wangi seperti kembang karena membela”.

KRONIK CHINA TENTANG KIYAYI NALA


                                   

Pada tahun Isaka 1203 (1281 M) dari negeri China datang dua orang putri Raja Ming / Miao Li (yang dikenal dengan Mauliwarma Dewa) keturunan Thong (Raja Miao Ciang) / Raja Li, Kerajaan Ming artinya Sinar / Surya,wilayah Cina waktu itu / Campa / Melayu (sekarang Malaya) Singapura atau Tumasek hingga laut Cina Selatan (Nan Hay). Belakangan berhasil di satukan Madjapahit dan China di kuasai dinasty Cing / Ming karena Mongol / Khan sudah runtuh, makanya kita disebut bangsa “INDO-CINA” yang jadi cikal bakal bangsa Indonesia.jadi orang yang tinggal di daratan China hingga ujung selatan (Melayu) disebut orang Indo-Cina .


Daratan China ke utara bernama “Mantjupai”. Madjapahit pun simbolnya Surya / Sinar , sedangkan simbol Raja adalah Macan putih. Dua Putri Raja Ming / Miao LI tersebut datang lengkap dengan dayang-dayang, pengawal ,para suhu dan lain-lain, kedua putri tersebut adalah “ Dara Jingga “ dan adiknya “ Dara Petak ” (Putih), keadatangan Putri China ini pada jaman Kerajaan Singhasari yaitu pada masa pemerintahan Sri Kerthanegara / Bathara Siwa tahun isaka 1190-1214 atau tahun (1268-1292 Masehi). Putri Dara Petak bergelar “ Maheswari ” diperistri oleh Sri Jayabaya atau Prabu Brawijaya I / Bhre Wijaya / Raden Wijaya , Raja Madjapahit pertama yang juga bergelar “ Sri Kertha Rajasa Jaya Wisnu Wardana ” pada tahun isaka 1216-1231 atau tahun (1294-1309 Masehi) yang selanjutnya menurunkan Prethi Santana / keturunan bernama “ Kala Gemet ” yang menjadi Raja Madjapahit kedua pada tahun 1309-1328 M, yang bergelar “ Jaya Negara ”. Sedangkan Putri Dara Jingga yang bergelar ‘’ Indreswari’’ atau Li Yu Lan atau Sri Tinuhanengpura (yang dituakan di Pura Singosari dan Madjapahit) diperistri oleh Sri Jayasabha yang bergelar “ Sri Wilatikta Brahmaraja I ” atau “ Hyang Wisesa “ .



Gelar Li adalah dari Raja Tong “ Li Ti “ (Li Wang Ti) yang mengirim Putri Macan Putih ke Kahuripan, Sri Jayasabha adalah pembesar Singosari dengan pangkat “ Maha Menteri ” . Putri Dara Jingga dalam lontar dikenal, yang berbunyi “ Dara Jingga arabi Dewa Sang Bathara Adwaya Brahma “ yang selanjutnya menurunkan putra sebanyak enam orang laki-laki yaitu : Sri Cakradara, Arya Dhamar, yang disebut juga dengan Arya Teja alias Kiyayi Nala atau Adityawarman, Arya Kenceng, Arya Kuthawaringin, Arya Sentong dan Arya Pudak yang kemudian menjadi Penguasa / Raja Di Bali. Juga disebutkan dalam kitab Cina Yin Yai Sin Land dan lontar Madjapahit bahwa pada pemerintahan Jaya Negara (Raja Madjapahit Kedua), Arya Damar (Adityawarman) yang masih saudara raja diutus sebagai wakil Madjapahit ke negeri Cina (1325 M), demikian juga pada masa pemerintahan Sri Tribuana Tungga Dewi , Arya Dhamar diberi gelar “ Arya Dewa Raja Pu Aditya ” ditulis pada prasasti Blitar (1331 M) dan oleh Ratu Tri Buana Arya Damar diutus kembali ke negeri Cina pada tahun 1332 M.


Di China Arya Damar di terima oleh kaisar Cing Wang (Raja Cing) dan di akui sebagai Sekiya Li Yu Lan / keturunan Putri Raja Li yang bernama Yulan,di Cina Dinasty yang sudah berusia 2500 tahun ini sangat disegani karena Raja Dinasty Li adalah termasuk Kerajaan Pemersatu yang disebut Kerajaan THANG / TONG yang menghasilkan Dewi Kwan Im / Avalokitesvara dan di puja seantero dunia termasuk Madjapahit, Dinasty Li ini tersebar di Indo China termasuk Perdana Menteri Singapura yang terkenal Li Kwan Yu jadi gelar Li itu sangat hebat karena berarti, Indonesia kurang memperhatikan sejarah / tulisan China karena pada zaman Orde Baru melarang tulisan China bahkan sekolah yang berbau China ditutup.tulisan tulisan China atau berita dari China sangat dibutuhkan karena akan mengungkap sejarah bangsa Indonesia yang mempunyai budaya yang adi luhung pada zaman kerajaan Madjapahit yang mempersatukan Nusantara dan sistimnya di pakai oleh seluruh dunia dengan adanya bukti , bahwa semua negara memilih perdana menteri untuk menjalankan pemerintahan.