Sabtu, 21 September 2019

KERAJAAN JENGGALA




Kerajaan Janggala atau Kerajaan Jenggala adalah salah satu dari dua pecahan kerajaan yang dipimpin oleh Airlangga dari Wangsa Isyana. Kerajaan ini berdiri tahun 1042, dan berakhir sekitar tahun 1130-an. Lokasi pusat kerajaan ini sekarang diperkirakan berada di wilayah Kabupaten SidoarjoJawa Timur.
Nama Janggala diperkirakan berasal kata "Hujung Galuh", atau disebut "Jung-ya-lu" berdasarkan catatan China. Hujung Galuh terletak di daerah muara sungai Brantas yang diperkirakan kini menjadi bagian kota Surabaya. Kota ini merupakan pelabuhan penting sejak zaman kerajaan Kahuripan, Janggala, Kediri, Singhasari, hingga Majapahit. Pada masa kerajaan Singhasari dan Majapahit pelabuhan ini kembali disebut sebagai Hujung Galuh.

PEMBAGIAN KERAJAAN OLEH AIRLANGGA

Pusat pemerintahan Janggala terletak di Kahuripan. Menurut prasasti Terep, kota Kahuripan didirikan oleh Airlangga tahun 1032, karena ibu kota yang lama, yaitu Watan Mas direbut seorang musuh wanita.
Berdasarkan prasasti Pamwatan dan Serat Calon Arang, pada tahun 1042 pusat pemerintahan Airlangga sudah pindah ke Daha. Tidak diketahui dengan pasti mengapa Airlangga meninggalkan Kahuripan.
Pada tahun 1042 itu pula, Airlangga turun takhta. Putri mahkotanya yang bernama Sanggramawijaya Tunggadewi lebih dulu memilih kehidupan sebagai pertapa, sehingga timbul perebutan kekuasaan antara kedua putra Airlangga yang lain, yaitu Sri Samarawijaya dan Mapanji Garasakan.
Akhir November 1042, Airlangga terpaksa membagi dua wilayah kerajaannya. Sri Samarawijaya mendapatkan Kerajaan Kadiri di sebelah barat yang berpusat di kota baru, yaitu Daha. Sedangkan Mapanji Garasakan mendapatkan Kerajaan Janggala di sebelah timur yang berpusat di kota lama, yaitu Kahuripan.

RAJA-RAJA JENGGALA

Pembagian kerajaan sepeninggal Airlangga terkesan sia-sia, karena antara kedua putranya tetap saja terlibat perang saudara untuk saling menguasai.
Pada awal berdirinya, Kerajaan Janggala lebih banyak meninggalkan bukti sejarah daripada Kerajaan Kadiri. Beberapa orang raja yang diketahui memerintah Janggala antara lain:
  1. Mapanji Garasakan, berdasarkan prasasti Turun Hyang II (1044), prasasti Kambang Putih, dan prasasti Malenga (1052).
  2. Alanjung Ahyes, berdasarkan prasasti Banjaran (1052).
  3. Samarotsaha, berdasarkan prasasti Sumengka (1059).


AKHIR DARI KERAJAAN JENGGALA


Meskipun raja Janggala yang sudah diketahui namanya hanya tiga orang saja, namun kerajaan ini mampu bertahan dalam persaingan sampai kurang lebih 90 tahun lamanya. Menurut prasasti Ngantang (1135), Kerajaan Janggala akhirnya ditaklukkan oleh Sri Jayabhaya raja Kadiri, dengan semboyannya yang terkenal, yaitu Panjalu Jayati, atau Kadiri Menang.
Sejak saat itu Janggala menjadi bawahan Kadiri. Menurut Kakawin Smaradahana, raja Kadiri yang bernama Sri Kameswara, yang memerintah sekitar tahun 1182-1194, memiliki permaisuri seorang putri Janggala bernama Kirana.

JENGGALA SEBAGAI BAWAHAN MAJAPAHIT

Setelah Kadiri ditaklukkan Singhasari tahun 1222, dan selanjutnya oleh Majapahit tahun 1293, secara otomatis Janggala pun ikut dikuasai.
Pada zaman Majapahit nama Kahuripan lebih populer daripada Janggala, sebagaimana nama Daha lebih populer daripada Kadiri. Meskipun demikian, pada prasasti Trailokyapuri (1486), Girindrawardhana raja Majapahit saat itu menyebut dirinya sebagai penguasa Wilwatikta-Janggala-Kadiri.

BRE KAHURIPAN ( JENGGALA )

  1. Tribhuwana 1309-13281350-1375 Pararaton.27:18,19; 29:32 Nagarakertagama.2:2
  2. Hayam Wuruk 1334-1350 Prasasti Tribhuwana
  3. Wikramawardhana 1375-1389 Suma Oriental(?)
  4. Surawardhani 1389-1400 Pararaton.29:23,26; 30:37
  5. Ratnapangkaja 1400-1446 Pararaton .30:5,6; 31:35
  6. Rajasawardhana 1447-1451 Pararaton.32:11; Prasasti Waringin Pitu
  7. Samarawijaya 1451-1478 Pararaton .32:23

KERAJAAN JENGGALA



KERAJAAN JENGGALA



Janggala, adalah salah satu dari dua kerajaan pecahan Kahuripan pada tahun 1049 (satu lainnya adalah Kadiri), yang dipecah oleh Airlangga untuk dua puteranya. Airlangga membagi Kahuripan menjadi dua kerajaan untuk menghindari perselisihan dua puteranya, dan ia sendiri turun tahta menjadi pertapa. Wilayah Kerajaan Janggala adalah bagian utara Kerajaan Kahuripan.

Tak banyak yang diketahui peristiwa di Kerajaan Janggala, karena Kadiri-lah yang cukup dominan. Raja pertama Kerajaan Janggala adalah Jayanegara. Diganti oleh putranya: Wajadrawa. Kemudian putri mahkota Wajadrawa, Kirana, menikah dengan Raja Kediri. Janggala kembali dipersatukan dengan Kadiri ketika Raja Kadiri Kameswara (1116-1136) menikah dengan puteri Kerajaan Janggala: Kirana. Dengan demikian, berakhirlah riwayat Kerajaan Janggala.

Janggala adalah salah satu dari dua pecahan kerajaan yang dipimpin oleh Airlangga dari Wangsa Isyana. Kerajaan ini berdiri tahun 1042, dan berakhir sekitar tahun 1130-an. Lokasi pusat kerajaan ini sekarang diperkirakan berada di wilayah Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.


Pembagian Kerajaan oleh Airlangga

Pusat pemerintahan Janggala terletak di Kahuripan. Menurut prasasti Terep, kota Kahuripan didirikan oleh Airlangga tahun 1032, karena ibu kota yang lama, yaitu Watan Mas direbut seorang musuh wanita. Berdasarkan prasasti Pamwatan dan Serat Calon Arang, pada tahun 1042 pusat pemerintahan Airlangga sudah pindah ke Daha. Tidak diketahui dengan pasti mengapa Airlangga meninggalkan Kahuripan.

Pada tahun 1042 itu pula, Airlangga turun takhta. Putri mahkotanya yang bernama Sanggramawijaya Tunggadewi lebih dulu memilih kehidupan sebagai pertapa, sehingga timbul perebutan kekuasaan antara kedua putra Airlangga yang lain, yaitu Sri Samarawijaya dan Mapanji Garasakan.

Akhir November 1042, Airlangga terpaksa membagi dua wilayah kerajaannya. Sri Samarawijaya mendapatkan Kerajaan Kadiri di sebelah barat yang berpusat di kota baru, yaitu Daha. Sedangkan Mapanji Garasakan mendapatkan Kerajaan Janggala di sebelah timur yang berpusat di kota lama, yaitu Kahuripan.


Raja-Raja Janggala

Pembagian kerajaan sepeninggal Airlangga terkesan sia-sia, karena antara kedua putranya tetap saja terlibat perang saudara untuk saling menguasai. Pada awal berdirinya, Kerajaan Janggala lebih banyak meninggalkan bukti sejarah dari pada Kerajaan Kadiri. Beberapa orang raja yang diketahui memerintah Janggala antara lain:
  1. Mapanji Garasakan, berdasarkan prasasti Turun Hyang II (1044), prasasti Kambang Putih, dan prasasti Malenga (1052).
  2. Alanjung Ahyes, berdasarkan prasasti Banjaran (1052).
  3. Samarotsaha, berdasarkan prasasti Sumengka (1059).

Akhir Kerajaan Janggala

Meskipun raja Janggala yang sudah diketahui namanya hanya tiga orang saja, namun kerajaan ini mampu bertahan dalam persaingan sampai kurang lebih 90 tahun lamanya. Menurut prasasti Ngantang (1035), Kerajaan Janggala akhirnya ditaklukkan oleh Sri Jayabhaya raja Kadiri, dengan semboyannya yang terkenal, yaitu Panjalu Jayati, atau Kadiri Menang. Sejak saat itu Janggala menjadi bawahan Kadiri. Menurut Kakawin Smaradahana, raja Kadiri yang bernama Sri Kameswara, yang memerintah sekitar tahun 1182-1194, memiliki permaisuri seorang putri Janggala bernama Kirana.


Janggala sebagai Bawahan Majapahit

Setelah Kadiri ditaklukkan Singhasari tahun 1222, dan selanjutnya oleh Majapahit tahun 1293, secara otomatis Janggala pun ikut dikuasai. Pada zaman Majapahit nama Kahuripan lebih populer dari pada Janggala, sebagaimana nama Daha lebih populer dari pada Kadiri. Meskipun demikian, pada prasasti Trailokyapuri (1486), Girindrawardhana raja Majapahit saat itu menyebut dirinya sebagai penguasa Wilwatikta-Janggala-Kadiri.


Janggala dalam Karya Sastra

Adanya Kerajaan Janggala juga muncul dalam Nagarakretagama yang ditulis tahun 1365. Kemudian muncul pula dalam naskah-naskah sastra yang berkembang pada zaman kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, misalnya Babad Tanah Jawi dan Serat Pranitiradya.


Arca Peninggalan

Dalam naskah-naskah tersebut, raja pertama Janggala bernama Lembu Amiluhur, putra Resi Gentayu alias Airlangga. Lembu Amiluhur ini juga bergelar Jayanegara. Ia digantikan putranya yang bernama Panji Asmarabangun, yang bergelar Prabu Suryawisesa. Panji Asmarabangun inilah yang sangat terkenal dalam kisah-kisah Panji. Istrinya bernama Galuh Candrakirana dari Kediri.

Dalam pementasan Ketoprak, tokoh Panji setelah menjadi raja Janggala juga sering disebut Sri Kameswara. Hal ini jelas berlawanan dengan berita dalam Smaradahana yang menyebut Sri Kameswara adalah raja Kadiri, dan Kirana adalah putri Janggala.
Selanjutnya, Panji Asmarabangun digantikan putranya yang bernama Kuda Laleyan, bergelar Prabu Surya Amiluhur.

Baru dua tahun bertakhta, Kerajaan Janggala tenggelam oleh bencana banjir. Surya Amiluhur terpaksa pindah ke barat mendirikan Kerajaan Pajajaran. Tokoh Surya Amiluhur inilah yang kemudian menurunkan Jaka Sesuruh, pendiri Majapahit versi dongeng. Itulah sedikit kisah tentang Kerajaan Janggala versi babad dan serat yang kebenarannya sulit dibuktikan dengan fakta sejarah.

Kamis, 19 September 2019

Sejarah Kerajaan Kahuripan dan Raja Airlangga



Sejarah Kerajaan Kahuripan dan Raja Airlangga

Airlangga adalah pendiri Kerajaan Kahuripan, yang memerintah tahun 1009-1042 dengan gelar Abhiseka Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa. Sebagai seorang raja, ia memerintahkan Mpu Kanwa untuk mengubah Kakawin Arjunawiwaha yang menggambarkan keberhasilannya dalam peperangan. Di akhir masa pemerintahannya, kerajaannya dibelah dua menjadi Kerajaan Kadiri dan Kerajaan Jenggala, bagi kedua putranya.
Airlangga lahir tahun 990, Ayahnya bernama Udayana, raja Kerajaan Bedahulu dari Wangsa Warmadewa, Ibunya bernama Mahendradatta dari Wangsa Isyana dari kerajaan Medang.
Airlangga menikah dengan putri pamannya, yaitu Dharmawangsa Teguh di Watan, ibu kota Kerajaan Medang (Maospati,Magetan Jatim). Ketika pesta berlangsung, kota Watan diserbu Raja Wurawari yang menjadi sekutu Kerajaan Sriwijaya. Kejadian ini tercatat dalam prasasti Pucangan, penyerangan ini terjadi sekitar tahun 928 saka.
Dalam serangan itu, Dharmawangsa Teguh tewas, sedangkan Airlangga lolos ke hutan pegunungan Wanagiri ditemani pembantunya Mpu Narotama. Saat itu ia berumur 16 tahun, sejak kejadian itu ia mulai menjalani hidup sebagai seorang pertapa. Bukti peninggalannya dapat dijumpai di Sendang Made, Kudu, Jombang, Jatim. Setelah tiga tahun hidup di hutan, Airlangga didatangi oleh utusan rakyat yang memintanya membangun kembali kerajaan Medang, karene kota Watan sudah hancur, ia membangun kota Watan Mas di dekat Gunung Penanggungan.
Saat pertamakali ia naik tahta wilayah kerajaannya hanya meliputi daerah Sidoarjo dan Pasuruan saja, karena sepeninggal Dharmawangsa Teguh banyak daerah bawahan yang melepaskan diri. Pada tahun 1023 Kerajaan Sriwijaya yang menjadi musuh besar Wangsa Isyana dikalahkan Rajendra Coladewa raja Colamandala dari India. Ini membuat Airlangga leluasa menyiapkan diri untuk menakhlukkan pulau Jawa
Sejak tahun 1025, Airlangga memperluas kekuasaan dan pengaruhnya seiring dengan melemahnya Sriwijaya. Mula-mula yang dilakukan Airlangga adalah menyusun kekuatan untuk menegakkan kembalikekuasaan Wangsa Isnaya atas pulau Jawa. Namun awalnya tidak berjalan dengan baik, karena menurut prasasti Terep (1032), Watan Mas kemudian direbut musuh, sehingga Airlangga melarikan diri ke desa Patakan. Berdasarkan prasasti Kamalagyan (1037), ibu kota kerajaan sudah pindah di Kahuripan (Sidoarjo).
Airlangga pertama-tama mengalahkan Raja Hasin, 1030 menakhlukkan Wisnuprbhawa raja Wuratan, Wijayawarma raja Wengker, kemudian Panuda raja Lewa. Pada tahun 1032, Airlangga dikalahkan oleh seorang raja wanita dari Tulungagung, istana Watan Mas dihancurkan. Airlangga terpaksa melarikan diri ke desa Patakan ditemani Mapanji Tumanggala, dan membangun kota baru di Kahuripan, dalam tahun itu juga Raja Wurawari dapat dikalahkan bersama Mpu Narotama. Terakhir tahun 1035, Airlangga menumpas pemberontakan Wijayawarma raja Wengker yang pernah ditaklukannya dulu. Wijayawarma melarikan diri dari kota Tapa namun kemudian mati dibunuh rakyatnya sendiri.
Pembangunan Kerajaan
Kerajaan yang baru dengan pusatnya di Kahuripan, Sidoarjo ini, wilayahnya membentang dari Pasuruan di timur hingga Madiun di barat. Pantai utara Jawa, terutama Surabaya dan Tuban, menjadi pusat perdagangan yang penting untuk pertama kalinya. Airlangga naik tahta dengan gelar abhiseka Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa. Airlangga juga memperluas wilayah kerajaan hingga ke Jawa Tengah, bahkan pengaruh kekuasaannya diakui sampai ke Bali. Menurut prasasti Pamwatan (1042), pusat kerajaan kemudian pindah ke Daha (Kediri).
Setelah keadaan aman, Airlangga mulai mengadakan pembangunan-pembangunan demi kesejahteraan rakyatnya. Pembangunan yang dicatat dalam prasasti-prasasti peninggalannya antara lain.
Membangun Sri Wijaya Asrama tahun 1036.
Membangun bendungan Waringin Sapta tahun 1037 untuk mencegah banjir musiman.
Memperbaiki pelabuhan Hujung Galuh, yang letaknya di muara Kali Brantas, dekat Surabayasekarang.
Membangun jalan-jalan yang menghubungkan daerah pesisir ke pusat kerajaan.
Meresmikan pertapaan Gunung Pucangan tahun 1041.
Memindahkan ibu kota dari Kahuripan ke Daha
Ketika itu, Airlangga dikenal atas toleransi beragamanya, yaitu sebagai pelindung agama Hindu Syiwa dan Buddha.
Airlangga juga menaruh perhatian terhadap seni sastra. Tahun 1035 Mpu Kanwa menulis Arjuna Wiwaha, yang diadaptasi dari epic Mahabharata. Kitab tersebut menceritakan perjuangan Arjunamengalahkan Niwatakawancaka, sebagai kiasan Airlangga mengalahkan Wurawari.
Pembelahan kerajaan
Pada tahun 1042 Airlangga turun takhta menjadi pendeta, ia bergelar Resi Aji Paduka Mpungku Sang Pinaka Catraning Bhuwana. Berdasarkan cerita rakyat, putri mahkota Airlangga menolak menjadi raja dan memilih hidup sebagai pertapa bernama Dewi Kili Suci. Nama asli putri tersebut dalam prasasti Cane (1021) sampai prasasti Turun Hyang (1035) adalah Sanggramawijaya Tunggadewi. Menurut Serat Calon Arang, Airlangga kemudian bingung memilih pengganti karena kedua putranya bersaing memperebutkan takhta. Mengingat dirinya juga putra raja Bali, maka ia pun berniat menempatkan salah satu putranya di pulau itu. Gurunya yang bernama Mpu Bharada berangkat ke Bali mengajukan niat tersebut namun mengalami kegagalan. Fakta sejarah menunjukkan Udayana digantikan putra keduanya yang bernama Marakata sebagai raja Bali, dan Marakata kemudian digantikan adik yang lain yaitu Anak Wungsu.
Airlangga lalu membagi dua wilayah kerajaannya. Mpu Bharada ditugasi menetapkan perbatasan antara bagian barat dan timur. Peristiwa pembelahan ini tercatat dalam Serat Calon Arang, Nagarakretagama, dan prasasti Turun Hyang II. Maka terciptalah dua kerajaan baru. Kerajaan barat disebut Kadiri berpusat di kota baru, yaitu Daha, diperintah oleh Sri Samarawijaya. Sedangkan kerajaan timur disebut Janggala berpusat di kota lama, yaitu Kahuripan, diperintah oleh Mapanji Garasakan.
Dalam prasasti Pamwatan, 20 November 1042, Airlangga masih bergelar Maharaja, sedangkan dalam prasasti Gandhakuti, 24 November 1042, ia sudah bergelar Resi Aji Paduka Mpungku. Dengan demikian, peristiwa pembelahan kerajaan diperkirakan terjadi di antara kedua tanggal tersebut.
Tidak diketahui dengan pasti kapan Airlangga meninggal. Prasasti Sumengka (1059) peninggalan Kerajaan Janggala hanya menyebutkan, Resi Aji Paduka Mpungku dimakamkan di tirtha atau pemandian. Kolam pemandian yang paling sesuai dengan berita prasasti Sumengka adalah Candi Belahan di lereng Gunung Penanggungan. Pada kolam tersebut ditemukan arca Wisnu disertai dua dewi. Berdasarkan prasasti Pucangan (1041) diketahui Airlangga adalah penganut Hindu Wisnu yang taat. Maka, ketiga patung tersebut dapat diperkirakan sebagai lambang Airlangga dengan dua istrinya, yaitu ibu Sri Samarawijaya dan ibu Mapanji Garasakan.
Tokoh-tokoh Penting masa Airlangga
Mahendradatta, juga dikenal di Bali dengan sebutan Gunapriya Dharmapatni, adalah puteri raja Sri Makutawangsa wardhana dari Wangsa Isyana (Kerajaan Medang). Ia menikah dengan Udayana, raja Bali dariWangsa Warmadewa, yang kemudian memiliki beberapa orang putra, yaitu Airlangga yang kemudian menjadi raja di Jawa, dan Anak Wungsu yang kemudian menjadi raja di Bali
Mpu Narotama adalah pembantu Airlangga yang setia menemani sejak masa pelarian sampai masa pemerintahan majikannya itu. Menurut prasasti Pucangan, Airlangga dan Narotama berasal dari Bali. Keduanya datang ke Jawa tahun 1006.
Sanggramawijaya Tunggadewi adalah putri Airlangga yang menjadi pewaris takhta Kahuripan, namun memilih mengundurkan diri sebagai pertapa bergelar Dewi Kili Suci. Pada masa pemerintahan Airlangga, sejak kerajaan masih berpusat di Watan Mas sampai pindah ke Kahuripan, tokoh Sanggramawijaya menjabat sebagai rakryan mahamantri alias putri mahkota. Gelar lengkapnya ialah Rakryan Mahamantri i Hino Sanggramawijaya Dharmaprasada Tunggadewi. Nama ini terdapat dalam prasasti Cane (1021) sampai prasasti Turun Hyang I (1035). Tokoh Dewi Kili Suci dalam Cerita Panji dikisahkan sebagai sosok agung yang sangat dihormati. Ia sering membantu kesulitan pasangan Panji Inu Kertapati dan Galuh Candrakirana, keponakannya.
Dewi Kili Suci juga dihubungkan dengan dongeng terciptanya Gunung Kelud. Dikisahkan semasa muda ia dilamar oleh seorang manusia berkepala kerbau bernama Mahesasura. Kili Suci bersedia menerima lamaran itu asalkan Mahesasura mampu membuatkannya sebuah sumur raksasa.
Sumur raksasa pun tercipta berkat kesaktian Mahesasura. Namun sayang, Mahesasura jatuh ke dalam sumur itu karena dijebak Kili Suci. Para prajurit Kadiri atas perintah Kili Suci menimbun sumur itu dengan batu-batuan, Timbunan batu begitu banyak sampai menggunung, dan terciptalah Gunung Kelud. Oleh sebab itu, apabila Gunung Kelud meletus, daerah Kediri selalu menjadi korban, sebagai wujud kemarahan arwah Mahesasura.
Dewi Kili Suci juga terdapat dalam Babad Tanah Jawi sebagai putri sulung Resi Gentayu raja Koripan. Kerajaan Koripan kemudian dibelah dua, menjadi Janggala dan Kadiri, yang masing-masing dipimpin oleh adik Kili Suci, yaitu Lembu Amiluhur dan Lembu Peteng.
Kisah ini mirip dengan fakta sejarah, yaitu setelah Airlangga turun takhta tahun 1042, wilayah kerajaan dibagi dua, menjadi Kadiri yang dipimpin Sri Samarawijaya, serta Janggala yang dipimpin Mapanji Garasakan.
Pada masa pemerintahan Airlangga dan raja-raja sebelumnya, jabatan tertinggi sesudah raja adalah rakryan mahamantri. Jabatan ini identik dengan putra mahkota, sehingga pada umumnya dijabat oleh putra atau menantu raja.
Dari prasasti-prasasti yang dikeluarkan Airlangga sejak 1021 sampai 1035, yang menjabat sebagai rakryan mahamantri adalah Sanggramawijaya Tunggadewi. Sedangkan, pada prasasti Pucangan (1041) muncul nama baru, yaitu Samarawijaya sebagai rakryan mahamantri.
Sanggramawijaya Tunggadewi identik dengan putri sulung Airlangga dalam Serat Calon Arang yang mengundurkan diri menjadi pertapa bernama Dewi Kili Suci. Dalam kisah tersebut, Dewi Kili Suci diberitakan memiliki dua orang adik laki-laki. Dengan demikian, Samarawijaya dipastikan adalah adik Sanggramawijaya Tunggadewi.
Perang Saudara
Sebelum turun takhta tahun 1042, Airlangga dihadapkan pada masalah persaingan antara kedua putranya. Maka, ia pun membelah wilayah kerajaannya menjadi dua, yaitu Kadiri dan Janggala. Peristiwa ini diberitakan dalam Nagarakretagama dan Serat Calon Arang, serta diperkuat oleh prasasti Turun Hyang (1044).
Dalam prasasti Turun Hyang, diketahui nama raja Janggala setelah pembelahan ialah Mapanji Garasakan. Nama raja Kadiri tidak disebutkan dengan jelas, namun dapat diperkirakan dijabat oleh Samarawijaya, karena sebelumnya ia sudah menjabat sebagai putra mahkota.
Prasasti Turun Hyang tersebut merupakan piagam pengesahan anugerah Mapanji Garasakan tahun 1044 terhadap penduduk desa Turun Hyang yang setia membantu Janggala melawan Kadiri. Jadi, pembelahan kerajaan yang dilakukan oleh Airlangga terkesan sia-sia belaka, karena kedua putranya, yaitu Samarawijaya dan Mapanji Garasakan tetap saja berebut kekuasaan.
Adanya unsur Teguh dalam gelar Samarawijaya, menunjukkan kalau ia adalah putra Airlangga yang dilahirkan dari putri Dharmawangsa Teguh. Sedangkan Mapanji Garasakan adalah putra dari istri kedua. Dugaan bahwa Airlangga memiliki dua orang istri didasarkan pada penemuan dua patung wanita pada Candi Belahan di lereng Gunung Penanggungan, yang diyakini sebagai situs pemakaman Airlangga.
Pembelahan kerajaan sepeninggal Airlangga tidak membuahkan hasil. Perang saudara tetap terjadi antara Garasakan raja Janggala melawan Sri Samarawijaya raja Kadiri. Mula-mula kemenangan berada di pihak Janggala. Pada tahun 1044 Garasakan menetapkan desa Turun Hyang sebagai sima swatantra atau perdikan, karena para pemuka desa tersebut setia membantu Janggala melawan Kadiri.
Pada tahun 1052 Garasakan memberi anugerah untuk desa Malenga karena membantu Janggala mengalahkan Aji Linggajaya raja Tanjung. Linggajaya ini merupakan raja bawahan Kadiri. Piagam yang berkenaan dengan peristiwa tersebut terkenal dengan nama prasasti Malenga.
Mpu Bharada muncul dalam Serat Calon Arang sebagai tokoh yang berhasil mengalahkan musuh Airlangga, yaitu Calon Arang, seorang janda sakti dari desa Girah.
Dikisahkan pula, Airlangga berniat turun takhta menjadi pendeta. Ia kemudian berguru pada Mpu Bharada. Kedua putranya bersaing memperebutkan takhta. Berhubung Airlangga juga putra sulung raja Bali, maka ia pun berniat menempatkan salah satu putrnya di pulau itu.
Mpu Bharada dikirim ke Bali menyampaikan maksud tersebut. Dalam perjalanan menyeberang laut, Mpu Bharada cukup dengan menumpang sehelai daun. Sesampainya di Bali permintaan Airlangga yang disampaikan Mpu Bharada ditolak oleh Mpu Kuturan, yang berniat mengangkat cucunya sebagai raja Bali.
Berdasarkan fakta sejarah, raja Bali saat itu (1042) adalah Anak Wungsu adik Airlangga sendiri.
Airlangga terpaksa membelah wilayah kerajaannya demi perdamaian kedua putranya. Menurut  Nagarakretagama, Mpu Bharada bertugas menetapkan batas antara kedua belahan negara.
Dikisahkan, Mpu Bharada terbang sambil mengucurkan air kendi. Ketika sampai dekat desa Palungan, jubah Mpu Bharada tersangkut ranting pohon asam. Ia marah dan mengutuk pohon asam itu menjadi kerdil. Oleh sebab itu, penduduk sekitar menamakan daerah itu Kamal Pandak, yang artinya “asem pendek”.
Desa Kamal Pandak pada zaman Majapahit menjadi lokasi pendirian Prajnaparamitapuri, yaitu candi pendharmaan arwah Gayatri, istri Raden Wijaya.
Selesai menetapkan batas Kerajaan Kadiri dan Janggala berdasarkan cucuran air kendi, Mpu Bharada mengucapkan kutukan, barang siapa berani melanggar batas tersebut hidupnya akan mengalami kesialan. Menurut prasasti Mahaksobhya yang diterbitkan Kertanagara raja Singhasari tahun 1289, kutukan Mpu Bharada sudah tawar berkat usaha Wisnuwardhana menyatukan kedua wilayah tersebut.
Nagarakretagama juga menyebutkan, Mpu Bharada adalah pendeta Buddha yang mendapat anugerah tanah desa Lemah Citra atau Lemah Tulis. Berita ini cukup unik karena ia bisa menjadi guru spiritual Airlangga yang menganut agama Hindu Wisnu.
Calon Arang adalah seorang tokoh dalam cerita rakyat Jawa dan Bali dari abad ke-12. Tidak diketahui lagi siapa yang mengarang cerita ini. Salinan teks Latin yang sangat penting berada di Belanda, yaitu di Bijdragen Koninklijke Instituut. ia adalah seorang janda pengguna ilmu hitam yang sering merusak hasil panen para petani dan menyebabkan datangnya penyakit. Calon Arang mempunyai seorang puteri bernama Ratna Manggali, yang meskipun cantik, tidak dapat mendapatkan seorang suami karena orang-orang takut pada ibunya. Karena kesulitan yang dihadapi puterinya, Calon Arang marah dan ia pun berniat membalas dendam dengan menculik seorang gadis muda. Gadis tersebut ia bawa ke sebuah kuil untuk dikorbankan kepada Dewi Durga. Hari berikutnya, banjir besar melanda desa tersebut dan banyak orang meninggal dunia. Penyakit pun muncul.
Raja Airlangga yang mengetahui hal tersebut kemudian meminta bantuan penasehatnya, Empu Baradah untuk mengatasi masalah ini. Empu Baradah lalu mengirimkan seorang prajurit bernama Empu Bahula untuk dinikahkan kepada Ratna. Keduanya menikah besar-besaran dengan pesta yang berlangsung tujuh hari tujuh malam, dan keadaan pun kembali normal.
Calon Arang mempunyai sebuah buku yang berisi ilmu-ilmu sihir. Pada suatu hari, buku ini berhasil ditemukan oleh Bahula yang menyerahkannya kepada Empu Baradah. Saat Calon Arang mengetahui bahwa bukunya telah dicuri, ia menjadi marah dan memutuskan untuk melawan Empu Baradah. Tanpa bantuan Dewi Durga, Calon Arang pun kalah. Sejak ia dikalahkan, desa tersebut pun aman dari ancaman ilmu hitam Calon Arang.

Kesimpulan
Airlangga adalah anak dari Udayana dari Wangsa Warmadewa, Ibunya bernama Mahendradatta dari Wangsa Isyana dari kerajaan Medang. Airlangga meempunya dua orang adik, yaitu Marakata yang kemudian menjadi raja Bali, dan Anak Wungsu yang menggantikan Marakata, Airlangga menikah dengan putri pamannya, yaitu Dharmawangsa Teguh di Watan, ibu kota Kerajaan Medang. Tetapi saat pernikahan berlangsung terjadi penyerangan besar dari raja Wurawari.
Dalam serangan itu, Dharmawangsa Teguh tewas, sedangkan Airlangga lolos ke hutan pegunungan Wanagiri ditemani pembantunya Mpu Narotama. Saat itu ia berumur 16 tahun, sejak kejadian itu ia mulai menjalani hidup sebagai seorang pertapa.
Diakhir masa pemerintahannya ia membagi kerajaanya menjadi dua yaitu Kadiri yang berpusat di Daha, dan Jenggala yang berpusat di Kahuripan. Dalam hal pemerintahan ia di bantu oleh Mpu Bharada yang juga sebagai gurunya, Mpu Bharada juga yang menjadi panutan ketika Airlangga membelah kerajaannya menjadi dua. 
Daftar Pustaka
  1. Poesponegoro & Notosusanto (ed.). 1990. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka.
  2. Slamet Muljana. 1979. Nagarakertagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bharata
  3. http://id.shvoong.com/humanities/history/2076543-sejarah-kerajaan-bali/#ixzz1M1htVKRe
keywords: raja airlangga, airlangga, kerajaan kahuripan, sejarah kahuripan

Minggu, 21 Agustus 2016

MASUKNYA ISLAM DI BAYAN


Dalam berbagai litelatur kuno tentang sejarah Islam di pulau Lombok, menyebutkan awal kedatangan Islam diperkirakan terjadi sekitar awal abad 16 Masehi yaitu tahun 1505 M,ketika pemerintahan Sunan Dalem yaitu putra dari Sunan Giri Kedathon,pengislaman tersebut atas perintah Ratu Giri, melalui pesisir Bayan di Kabupaten Lombok Utara. Dan selanjutnya penyebaran agama islam dilanjutkan oleh Sunan Sunan Prapen ke Bayan tahun 1545 M , adalah cucu ke 4 Sunan Giri.
Pada tahun 1510 M, ketika terjadi gonjang ganjing tentang ajaran Syeikh Siti Jenar di Demak,seorang murid Syeikh Siti Jenar yang bernama Kebo Kanigoro datang ke Lombok dan menikah dengan putri Purwa yang bernama Dwi Kencana Sari mengajarkan islam sufie di Lombok.Kebo Kanigoro dikenal dengan nama Pangeran Pengging di Lombok ,dan mengajar islam sufie di Pujut dan Bayan.Di Bayan Pangeran Pengging dikenal dengan nama Pangeran Mangkubumi.
Terlepas dari banyaknya persepsi tentang sejarah awal kedatangan Islam ke Lombok, Bayan tetap diyakini masyarakat luas sebagai daerah pertama yang mengenal Islam. Setelah itu baru menyebar ke seluruh penjuru pulau Lombok, hingga kawasan barat dan timur.
Hal itu didukung dengan adanya sejumlah bukti artefak yang hingga kini masih bisa dijumpai di daerah bayan, salah satunya Masjid Kuno Bayan dan Al-quran tulis tangan berusia ratusan tahun.
“Ada beberapa persepsi mengenai sejarah kedatangan Islam ke Lombok, namun yang paling umum, Islam  diperkirakan pertama kali datang abad ke 16, dibawa Sunan Perapen dari tanah Jawa,” ungkap tokoh adat Bayan, Raden Gedarip.
Berdasar satu dari sekian banyak persepsi sejarah Islam Lombok, orang pertama yang memeluk agama Islam di Bayan bernama Titi Mas Supakel.

Setelah memeluk agama Islam maka sebagai tanda ke-Islamannya Titi Mas Supakel mengkhitankan empat putranya, namun di antara keempat putranya tersebut, yaitu Titi Mas Bunbunan menolak dikhitan. Karena tidak bersedia dikhitan, Titi Mas Bunbunan dikirim ayahnya untuk mencari ilmu ke Bali, seiring waktu Titi Mas Bunbunan pun masuk agama Hindu kemudian menetap di Bali.

Dalam cerita sejarah yang ada, beliau diceritakan memiliki lima orang putra-putri, empat laki-laki dan satu orang perempuan. Mereka antara lain Titi mas Rempung, Titi Mas Muter, Titi Mas Sunsunan, Titi Mas Bunbunan, dan Titi Mas Pande. Dari ke lima putra-putri titi mas supakel itu, hanya Titi Mas Pande yang diketahui memiliki kemampuan lebih dan di percaya oleh ayahnya sebagai penguasa adat.
Putra Titi Mas Supakel yang lain, yakni Titi Mas Sunsunan dikirim ke pejanggik yang kemudian juga menetap disana. Setelah semua putra beranjak dewasa, Titi Mas Supakel memutuskan pindah ke Gunung Batua dan menyerahkan kepemimpinan Datu Bayan kepada anaknya yang paling besar yaitu Titi mas Rempung.
Namun, tidak lama menjadi Datu Bayan, tahta kepempinan diserahkan kembali kepada adik perempuannya yaitu Titi Mas Pande, sehingga pimpinan di wilayah Kedatuan Bayan di pimpin oleh seorang perempuan dan sekaligus sebagai pemimpin adat pada waktu itu.
Ketika Titi Mas Pande menjadi pemimpin kedatuan Bayan, pelaksanaan adat berjalan bersama dengan pelaksanaan agama  sehingga Titi Mas Pande di kenal oleh rakyatnya sebagai pemimpin yang adil arif dan bijaksana.
Bersamaan dengan pindahnya ayah mereka ke Gunung Batua, putra kedua dari Titi Mas Supakel yaitu  Titi Mas Muter dikirim ke mekah untuk mendalami Islam dan sekaligus untuk menunaikan ibadah haji.
Setelah cukup lama menuntut ilmu di tanah mekah, titi mas muter di sarankan sang guru untuk kembali ke negerinya. Titi mas muter pun mendapatkan gelar Syekh Nurul Rosyid.
Diceritakan dalam perjalanan pulang Titi Mas Muter yang sudah berganti nama Syekh Nurul Rosid singgah di Bagdad, Iraq untuk memperdalam ilmunya.
Setelah lama berguru dan belajar di Iraq, Syekh Nurul Rasid kembali berganti nama menjadi Gaus Abdul Rozak, baru setelah mendapatkan gelar tersebut Gaus Abdul Rozak melanjutkan kembali perjalanan pulang ke negerinya.Pada tahun 1578 M Gaus Abdul Rozak mendirikan masjid Bayan bersama Sunan Prapen.
Sejak kedatangannya pertama kali di pulau Lombok, melalui pelabuhan carik bayan, para Sunan pembawa Islam terus menyebarkan dakwahnya kepada warga lokal di sekitar kawasan pesisir. Masyarakat diberikan pemahaman-pemahaman tentang kebesaran Islam, menyampaikan ajaran ketauhidan.
Seiring waktu, dengan pola komunikasi dan pendekatan positif, masyarakat Bayan saat itu perlahan membuka diri, Islam-pun akhirnya diterima masyarakat sasak bayan.
Konversi keyakinan secara besar-besaran terjadi. Paham-paham dan praktik animisme mulai ditinggalkan, meski sebagaian masyarakat suku sasak terutama yang berada di daerah-daerah pedalaman belum mampu melepaskan diri sepenuhnya dari ideologis keyakinan local yang telah diyakininya sejak lama.
Namun begitu, Islam di Lombok tidak berupaya memposisikan dirinya secara diametral sebagai kelompok keyakinan yang eksklusiv dengan budaya local yang sudah dijalani masyarakat sasak pada saat itu. Islam membiarkan dirinya dipraktikkan dalam tradisi-tradisi lokal masyarakat.
Perkembangan islam di pulau Lombok, Bayan pada khususnya berjalan beriringan dengan eksisitensi budaya dan karakteristik social masyarakat hingga kini.
Membahas Islam di tengah masyarakat Sasak Lombok, maka akan terfokus pada dua paham keagamaan yang ada, yakni Islam waktu lima (atau Islam yang dikonotasikan sebagai Islam syariat) dan Islam Wetu Telu, sebuah konsep pemahaman keyakinan tradisonal yang dipraktikkan masyarakat suku Sasak Lombok secara kolektif sejak ratusan tahun silam.
Islam berkembang dengan pesat. Puluhan bahkan ratusan tahun setelah kedatangannya ke pulau Lombok, kini Islam mampu meletakkan dasar ajaran-ajaran ketauhidannya sebagai pegangan hidup bagi jutaan jiwa masyarakat sasak Lombok pada umumnya.

Rabu, 17 Agustus 2016

KEBO MUNDAR RAJA SASAK




Kegembiraan atas kemenangan Kyai Tabanan dan Kyai pacung di Jawa timur tidak berkesan lama, karena pada tahun itu juga kekuasaan baginda di pulau sumbawa digempur oleh pasukan Sultan Makassar. Kerajaan Bima yang sejak dahulu bernaung dibawah kekuasaan kerajaan Gelgel telah dirapas oleh Sultan Makassar. Dengan demikian hubungan baik antara kerajaan Bali dan Makassar yang telah diikat dengan suatu perjanjian di dalam tahun 1624 menjadi berantakan kembali. 



Dengan demikian kedudukan baginda Sri Di Madhe didalam mengeudikan pemerintahan di Bali terasa makin sulit. Kerajaan Mataram yang terletak disebelah Barat keadaannya makin lama bertambah kuat, sedangkan sultan Makassar sudah mulai memperluas daerah kekuasaan di daerah Blangbangan antara kerajaan Mataram sering terjadi, sehingga merupakan suatu persoalan yang sulit untuk diatasi. Sedangkan kekuasaan baginda dibagian Timur sudah tampak mulai goyah, dengan adanya kekuasaan Sultan Makassar di pulau sumbawa.

Maka pada suatu hari didalam tahun 1639 dikirimlah utusan kepada VOC untuk membicarakan kembali suatu perjanjian persahabatan, seperti yang pernah disarankannya 6 tahun yang lalu. Akan tetapi perjalanan utusan terebut ternyata sia-sia, karena dari pihak VOC masih mempertimbangkan permintaan baginda raja itu.

Kelemahan yang sedang menimpa kerajaan Gelgel ternyata dipergunakan oleh kerajaan Makassar untuk merongrong kekuasaannya. Didalam catatan VOC disebutkan bahwa pada tanggal 30 Oktober 1640 angkatan perang Makassar yang besar jumlahnya menggempur pulau Lombok. Orang-orang Sasak yang diserang itu mengadakan perlawanan dengan sengitnya. Terjadilah pertempuran yang hebat disitu, masing-masing pasukan mempertahankan kekuatannya. Tentara Sasak yang gagah berani itu, akhirnya dapat mengusir pasukan Sultan makasar dari pulau Lombok, dibawah pimpinan seorang rajanya yag bernama Kebo Mundar. 

Setelah angkatan perang sultan Makaar menderita kekalahan di pulau Lombok, maka Kebo Mundar lalu menyatakan tidak mengakui lagi kekuasaan baginda raja di Gelgel. Mungkin kemenangan yang telah dicapainya melawan Sultan Makassar itu membangkitkan kepercayaananya untuk membebaskan pulau lombok dari kekuasaan pemeritnahan di Bali.

Peryataan Kebo Mundar yang demikian itu dianggap oleh pemerintah kerajaan di Gelgel sebagai suatu pemberontakan, maka baginda Sri Di Madhe menitahkan Kyai Tabaan untuk menumpasnya. Selanjutnya didalam kitab yang bernama “Babad Tabanan” menjelaskan, bahwa didalam penyerangan itu Kyai Tabanan mendaratkan pasukan yang berkekuatan ± 100.000 0rang. Pasukan Bali yang demikian besar jumlahnya itu melakukan penyerangan dengan hebatnya, terhadap kekuasaan Kebo Mundar. Setelahrajanya gugur didalam pertempuran, maka orang-orang Sasak takluk lagi dibawah kekuasaan baginda raja di Gelgel. Kemenangan Kyai Tabanan di pulau Lombok itu mendapat penghargaan dan pujian dari baginda Sri Di Madhe. Dua buahkitab syair yang berjudul “Susumbung parwasari”, dan “Tabanan Sari” seperti yang termuat di dala kitab Kidung Pemencangah, adalah suatu pujian tehradap kegagahan dan keberanian Kyai Tabanan.

Sesudah Sri Baginda berhasil mengadakan penumpasan di Pulau Lombok di dalam tahun 1640, maka kekuasaan baginda di Jawa timur dirampas lagi oleh angkatan perang dari kerajaan Mataram.
Hal itu disebutkan didalam sebuah kitab yang bernama “Babad Tabanan”. Kitab itu antara lain menceritakan bahwa untuk membebaskan kekuasaan baginda di Jawa timur dikirimlah angakatan perang dari Bali yang dipimpin oleh 2 orang anak Kyai Tabanan. Kedua anak tersebut masing-masing bernama :

Gusti Wayan Pamadekan alias Gusti Raka dan Gusti Made Pamadekan alias Gusti Rai.
Mereka dibantu oleh Kyai Pacung yang sudah banyak berpengalaman di medan pertempuran. Di dalam pertempuran itu ternyata angkatan perang Mataram jauh lebih kuat, sehingga pasukan bali menderita kekalahan. Gusti Wayan Pamadekan dapat digtawan disana, sedangkan adiknya yang bernama Gusgti Made Pamadekan dapat meloloskan dirinya bersama-sama Kiyai pacung. Mereka tiba dengan selamat di Bali beserta dengan beberapa anak buahnya. Peristiwa itu terjadi didalam tahun 1641, seperti termuat didalam pemberitaan VOC. Yang berkedudukan di Jepara (Jawa Tengah). 

Kekalahan angkatan perang dari kerajaan Gelgel di Blangbangan itu, menunjukkan suatu kemunduran yang sedang dialami oleh suatu kerajaanyang pernah jaya. Kesempatan yang baik itu dipergunakan oleh kerajaan Sumbawa untuk menggempur pulau Lombok. Penyerbuan secara besar-besaran dari kerajaan Sumbawa itu, dibantu pula oleh angkatan perang dari kerajaan Makasar, sehingga angkatan perang Bali yang menguasai Lombok Timur terpaksa mengundurkan diri sampai ke Lombok Barat. Disitulah mereka berkumpul sambil mempertahankan kekuasannya. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 14 Oktober 1641, seperti tersebut didalam catatan harian VOC.

MAS PAKEL UKIR KATENG LOMBOK






Orang orang muslim sasak mula-mula dibawa oleh raja Bali (era Kerajaan Karangasem) dari daratan Lombok. Waktu itu Lombok memang berada dibawah pendudukan kerajaan Karangasem. Secara historis, keinginan untuk penguasaan Bali atas Lombok sebenarnya terjadi jauh sebelum kerajaan Karangasem, yakni sudah terjadi di sekitar abad 16 oleh kerajaan Gelgel era kepemimpinan Watu Renggong. Waktu itu Watu Renggong (pasca runtuhnya Majapahit oleh Demak) berhasil menguasai Blambangan (1512 M),dan menyerang Kerajaan Lombok (1520 M). dan Gelgel gagal untuk melaksanakan niatnya untuk menguasai Lombok waktu itu. Tujuan Waturenggong kala itu memang untuk membendung pengaruh Islam Demak memasuki Bali. Logika Waturenggong ini dapat dipahami sebab kala itu Bali memang menjadi tempat pelarian orang-orang yang pintar dan kuat-kuat akidah kehinduannya. Era keruntuhan Mojopahit memang pangeran-pangeran yang tak mau masuk Islam lari ke Bali. Sebagian ada juga yang lari ke gunung Bromo yang kala itu rombongan dipimpinan Pangeran Seger dan istrinya Roro Anteng. anak keturunan mereka pun akhirnya disebut suku Tengger

Lombok memang menjadi target strategis penguasaan Watu Renggong (berkuasa sejak 1460-1550 M) untuk menghadang Islam Demak, sebab Lombok kala itu sudah terpengaruh Islam. Artinya, Islam sudah masuk dan menyebar ke wilayah itu. Kedatangan Islam ke Lombok terjadi sekitar tahun 1505 M ketika zaman Sunan Dalem putranya Sunan Giri Kedaton berkuasa di Gersik (1505-1545 M) . Islam masuk dari arah utara dan timur, lantas untuk mengefektifkan pengaruh, wilayah penyebaran sengaja dibagi dua sesuai dengan dua tokoh utama pelaku penyebaran, yakni: Raden Mas pengging dan Raden Mas Prapen alias Sunan Mas Ratu Pratikel (hidup tahun 1548-1605). Raden Mas Prapen tidak lain adalah buyut dari Sunan Giri (hidup tahun 1487-1506), sehingga dia sering disebut sebagai Sunan Giri ke IV. Sedangkan Raden Mas Pengging tidak lain adalah Ki Kebo Kenongo yang lahir di Pengging tahun 1472 M. Raden Mas Pengging ini menjadi murid Syekh Siti Jenar. Melalui misi kedua orang itulah akhirnya Lombok menjadi penganut Islam.

Wilayah Lombok muslim inilah yang diserang oleh Gelgel pimpinan Waturenggong pada tahun 1520 M namun penyerangan itu dapat digagalkan,dan kegagalan tersebut membuat Gegel Waturenggong membuat taktik lain yaitu mengirim Danghiyang Niratha Atau Pedanda Sakti Wawu Rawuh menemui Sri Aji Kerahengan di Mataram Lombok  Gelgel juga mengirim rakyatnya untuk membuka lahan pertanian di sekitar Mataram yang nantinya daerah tersebut berkembang pesat dan berdirilah dua buah kerajaan di tempat tersebut yaitu Kerajaan Pegesangan dan Pagutan ( tahun 1622 M ). Kerajaan Gelgel pasca Watu Renggong ”berantakan” sendiri terutama akibat konflik internal. Banyak wilayah akhirnya mendeklarasikan sebagai kerajaan sendiri, serta menempatkan Gelgel hanya sebagai pusat kultural belaka. Dengan rontoknya kekuatan Gelgel, Lombok tentu telepas pula dari ancaman Gelgel Klungkung. Namun, pada perkembangan waktu Karangasem berhasil menaklukkan dan meluaskan kerajaannya ke Lombok tahun 1692 M dengan membelotnya Patih Pejanggik Arya Banjar Getas memberontak terhadap kekuasaan Pejanggik.

Sebelum Karangasem melebarkan kekuasaan ke Lombok, untuk penjajakan raja menjalin lawatan (perkenalan-persahabatan) politik dengan beberapa raja. Di kerajaan Pejanggik Lombok Tengah, raja berkenalan dengan Datu Pejanggik Maspanji Meraja Sakti memiliki anak muda bernama Mas Pakel Ukir. Sebagai tanda perasudaraan, raja Bali mengundang Mas Pakel datang dan tinggal di Bali alias diangkat menjadi keluarga kerajaan Karangasem.

Mas Pakel adalah seorang pemuda gagah, ganteng, dan sangat sopan, sehingga para putri raja bahkan istri raja sangat menyukainya. Akibatnya, keluarga lingkungan kerajaan banyak yang merasa iri atau sakit hati. Mereka lantas membuat fitnah bahwa: Mas Pakel Ukir merusak pagar ayu, merusak istri raja, merusak putri-putri raja, yang mestinya dijaga. Gencarnya profokasi menyebabkan raja termakan oleh cerita ini, sehingga membuat rekayasa untuk menyingkirkan pemuda Pakel. Pakel ditunjuk menjadi panglima, dan seolah dikirim untuk melawan musuh. Namun, di wilayah yang kini ada di kawasan Tohpati Mas Pakel berusaha untuk dibunuh. Mas Pakel Ukir sangat sakti, sehingga tidak bisa mati. Meski demikian, Pakel yang sendirian juga tidak bisa selamat dari pengeroyokan. Konon ia lantas mengambil sikap, ”Saya sekarang tahu bahwa saya direkayasa untuk dibunuh. Kalau mau membunuh saya bawalah saya ke Pantai Ujung”. Proses berikutnya ada tiga versi:Pertama, Di pantai Mas Pakel tetap gagal dibunuh, sehingga akhirnya diusir balik ke Lombok dengan memakai perahu kecil (perahu pancing). Adapun makam yang ada di dekat Panjai Ujung, Karangasem itu, bukan makam Datu Mas Pakel Ukir (yang dikenal dengan sebutan Sunan Mumbul) tetapi makam Raja Pejanggik yang ditawan Raja Karangasem hingga meninggal. Kedua, ketika patih yang ditugaskan untuk membunuh mengayunkan pedang, Mas Pakel tiba-tiba menghilang dari pandangan dan berlari di atas air. Patih lantas membuat rekayasa untuk lapor pada raja, dengan membunuh seekor anjing dan hatinya diserahkan pada raja sebagai bukti bahwa dia telah menjalankan perintah. Namun, beberapa hari setelah peristiwa itu, tiba-tiba muncul seberkas sinar tempat Mas Pakel Ukir menghilang, dan tanah yang semula rata berubah menjadi gundukan menyerupai kuburan. Sejak itulah Mas Pakel dijuluki dengan sebutan Sunan Mumbul. Ketiga, Pakel akhirnya memang dibunuh, karena dia telah melepaskan kesaktian. Mayatnya dikubur di Pantai itu. Namun, ketika hendak dibunuh dia mengeluarkan kutukan: ”siapapun yang membunuh, semua keturunannya kalau lewat lokasi ini akan sakit jika tak bisa kencing di sekitar sini”. Perkataan Pakel ini dipercaya menjadi tuah oleh komunitas Hindu setempat. ”Saya kenal I Gede Gusti Putu. Dia nunggu dulu nggak mau lewat kalau belum kencing. Kalau belum kencing ndak berani lewat katanya. Makam yang dipercaya sebagai kuburan Mas Pakel ini kini biasa diziarai terutama pada 15 hari pasca lebaran Iedzul Fitri.

Namun jika kita lihat tentang berita dari Lombok ,bahwa Mas Pakel Ukir tidak dibunuh,namun diberikan sebuah perahu untuk kembali ke Pulau Lombok,dan Patih Kerajaan Karang Asem yang ditugaskan untuk membunuh Mas Pakel Ukir membuat laporan kepada Raja,bahwa Mas Pakel Ukir telah dibunuhnya di Pantai Ujung.Sebagai bukti bahwa Mas Pakel Ukir tidak dibunuh dan kembali ke Lombok yaitu adanya keturunannya yang sampai saat ini masih ada di Lombok yaitu di sekitar wilayah Kateng dan Mangkung.Di Lombok menurut beberapa sumber disebutkan Putri dari Mas Pakel Ukir dinikahkan dengan Putra Maspanji Komala Patria yang melahirkan seorang putra bernama Maspanji Turu ,dan mas Maspanji Turu melahirkan tiga orang putra yang bernama :

1-Denek Laki ( Demung ) Nanggali yang beranak pinak di Kateng
2-Denek Laki ( Demung ) Suwa yang beranak pinak di Mangkung
3-Denek Laki ( Demung ) Paritu yang beranak pinak di Selebung Ketangga

Terkait Mas Pakel dalam konteks sejarah penaklukan Lombok oleh Karangasem, terdapat dua interpretasi sejarah.

Pertama, Pengangkatan Mas Pakel sebagai saudara kerajaan dan dipersilahkan tinggal di Karangasem, sejak awal telah dirancang untuk wahana penjajakan kekuatan: Ingin tahu berapa kekutannya, dan berapa prajuritnya. Jadi dengan adanya Datuk Mas Pakel atau disebut juga Datuk Pemuda Mas diambil sebagai saudara, kerajaan Karangasem bisa leluasa kesana-kemari untuk menyelidiki kekuatan lawan. Setelah mengetahui kekuatan dan kelemahan Lombok, Mas Pakel Ukir yang tidak lagi “dibutuhkan” disingkirkan, sedangkan penaklukan atas Lombok segera dilakukan. Jadi, pengusiran/pembunuhan Pakel dengan alasan ”merusak pagar ayu keraton”, hakekatnya sengaja direncanakan untuk mencari alasan permusuhan alias pengabsah bagi Karangasem untuk melakukan penyerangan terhadap Lombok.

Kedua, kemungkinan lain raja Karangasem memang tidak melakukan rekayasa, tetapi murni ingin membangun persahabatan dengan Lombok termasuk dengan mengangkat saudara Mas Pakel. Tetapi, raja akhirnya termakan fitnah yang dibangun elemen kerajaan yang anti Islam dan anti Mas Pakel . Akibatnya, raja Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem benar-benar marah, mengusir/membunuh Mas Pakel, bahkan akhirnya melampiaskan kemarahan dengan melakukan perang penaklukan terhadap Lombok (Selaparang dan Pejanggik).

Lombok akhirnya berhasil ditaklukkan Karangasem (Bali) pada tahun 1692 M, sebagai tanda penaklukan kedua setelah sebelumnya pernah diserang oleh Gelgel era Waturenggong. Banyak hal memberi bukti terkait dengan penaklukkan ini. ”Kampung-kampung di Lombok setelah diduduki Karangasem harus ditambah namanya dengan nama Karang. Makanya kalau ke Lombok nama kampung-kampung (kecuali yang baru) pasti pakai nama Karang. Yang dulu kampung Jangkong menjadi Karang Jangkong. Yang namanya kampong Meranggi menjadi Karang Meranggi. Semua pake Karang, Karang Gentel, hampir seluruhnya”. Selain itu, raja Karangasem juga berusaha mempersaudarakan antara Hindu dan Islam dengan cara mengakulturasi bahasa. Maka diadopsilah bahasa Lombok, Beraye, sementara bahasa Bali yang dibawa adalah Menyame. Maka jadilah Menyame Braye. ”Awalan bahasa Bali pasti Me, kalau tidak berteman. Sementara Beraye adalah bahasa Lombok, dengan awalan Be. Ketika menjadi bahasa Bali misalnya: Paling tiang Bebatur. Hasil akulturasi itu dijadikan satu bahasa Bali dan Lombok. Jadi, awalnya Menyama Braye itu di Puri Karangasem, lantas menyebar ke seluruh Bali”,yang ahli membaca lontar peninggalan generasi lampau.

Selain itu, setelah penaklukan, orang-orang Lombok yang dianggap sakti lantas dibawa raja ke Karangasem dengan maksud agar membantu keraton. “Menurut cerita kakek saya, mereka yang didatangkan kebanyakan orang-orang bertuah. Orang-orang yang artinya mempunyai power, tentu sesuai zaman itu. Kalau menurut saya istilahnya ndak sakti, nabi saja dilempar patah giginya. Kalau menurut saya mereka itu orang-orang yang saya anggap mempunyai power dan keberanian, mempunyai pengaruh, mempunyai kepemimpinan karismatik begitulah. Orang-orang seperti itulah yang dibawa kemari”.

Mereka inilah cikal bakal komunitas-komunitas Muslim Karangasem, yang mayoritas berasal dari Lombok. Orang-orang sakti ini ditempatkan sepasang-sepang (baca: suami istri) dengan: memakai strategi mengelilingi Puri Kanginan sebagai tempat raja. Di sebelah selatan ada Banjar Kodok, di sebelah selatannya lagi kampung Islam Dangin Seme. Di sebelah barat ada desa Hindu, sebelah baratnya lagi Kampung Islam Bangras. Intinya, penempatan dilakukan secara selang-seling Islam-Hindu, mengelilingi puri. ”Itu strategi raja untuk mempersatukan rakyat Karangasem, sekaligus mengamankan puri”, Namun, logika itu juga memberikan arti bahwa puri tampaknya tidak terlalu merasa aman jika hanya dikelilingi rakyat Hindu, serta memerlukan pengawalan dari rakyat yang justru beda agama. Pada kenyataannya memang kalangan Islam dapat dipercaya raja untuk menjadi ”pengawal puri”. Inilah yang menjadi satu sebab kenapa Umat Islam Karangasem dengan Puri menjadi sangat akrab.

Selain Dangin Seme, kampung-kampung kuno Islam lain di Karangasem sejarahnya juga sama. Mereka sengaja ditaruh sepasang-sepasang (baca: kira-kira suami istri), dengan posisi mengelilingi Puri. Posisi mengelilingi puri dibuat dua lapis. Seperti Dangin Seme termasuk lapisan pertama. Lapisan kedua seperti Segar Katon, Ujung Pesisi, Kebulak Kesasak, Bukit Tabuan, dengan formasi juga mengelilingi puri. Lapis kedua bahkan sampai Saren Jawa dan Kecicang.
Adapun muslim yang ditempatkan di Sindu, spesifik untuk menghadang kerajaan Klungkung. Yang ditaruh di Sidemen untuk menghadang dan memata-matai gerak-gerik kerajaan Klungkung. Dengan kata lain, komunitas muslim Sindu –yang jaraknya sekitar 30 km dari Dangin Seme– dulunya memang spesial untuk memata-matai Klungkung.

Selain Shindu ada kampung Islam lain yang kala itu mempunyai posisi super spesial, sehingga nama kampung pun memiliki nama yang mencerminkan posisi dan fungsi yang super spesial. Kamunitas Kampung Karang Tohpati, adalah contohnya. Toh itu artinya mempertaruhkan, sedangkan pati atinya jiwa. “Kala itu kaum Muslim sebenarnya bukan tinggal di Karang Tohpati, tetapi mereka memang tinggal di lokasi Tohpati di wilayah Bebandem di Saren Jawa. Di situlah ada namanya Tohpati, di situlah dulunya dia tinggal, untuk menjaga kalau ada musuh. Di lokasi itu Tohpati mempertaruhkan Jiwa”, “Kasus ini sama dengan orang-orang Subagan yang asalnya dari Sekar Bela. Sekar artinya kembang, bela maknanya membela. Jadi dia suka membela raja sampai namanya wangi seperti kembang karena membela”.